Novel Baswedan Blak-Blakan Janggal TWK Seleksi ASN KPK, Yakin Dianggap Lawan Atasan Oleh Tim Asesmen
Instagram/novelbaswedanofficial
Nasional
Polemik Tes ASN Pegawai KPK

Novel Baswedan yakin jawaban-jawabannnya selama menjalani seleksi ASN pegawai KPK itu membuatnya dicap suka melawan atasan. Berikut penuturan Novel selengkapnya.

WowKeren - Polemik tes wawasan kebangsaan (TWK) yang disodorkan saat seleksi aparatur sipil negara (ASN) kepada pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus menjadi bahasan panas. Banyak peserta menilai soal-soalnya tidak sesuai dengan tupoksi pegawai KPK, bahkan belakangan dianggap formalitas belaka untuk "mendepak" sejumlah nama top di lembaga.

Dari bocoran yang ramai dibicarakan, ada 75 nama yang disebut tidak lolos dengan salah satunya adalah penyidik senior Novel Baswedan. "Ya saya tahu saya dapat info soal itu dan saya yakin itu benar," ungkap Novel ketika ditanya pendapatnya soal daftar nama yang beredar itu, Kamis (6/5).

Novel merasa ke-75 nama itu sudah dipastikan integritasnya sehingga cukup aneh apabila sampai tidak memenuhi syarat sebagai ASN. Dan pada kesempatan itu pula Novel blak-blakan membeberkan sejumlah pertanyaan janggal dalam TWK tersebut.

"Itu soalnya aneh-aneh kok, anehnya parah," ujar Novel kepada Detik News. "Dia nanya gini, 'Pak Novel bagaimana dengan orang-orang KPK yang liar, yang tidak terkendali oleh pimpinan, oleh struktural atau pimpinan, bertindak sendiri-sendiri?'"

Pertanyaan itu jelas membuat Novel heran. Rupanya yang dimaksud adalah soal pegawai yang melakukan operasi tangkap tangan tanpa izin atau semacamnya. "Saya bilang itu nggak mungkin karena mekanisme itu jelas," tegas Novel.

Novel tak menampik bahwa isu seperti itu sudah lama beredar, namun ia memastikan semuanya hoaks. Bahkan Novel menantang informan sang asesor untuk menunjukkan detail aktivitas tanpa izin yang dimaksud seperti apa.


"Bisa nggak orang yang menjadi informan ke Bapak disuruh mengkonstruksikan bagaimana caranya, kegiatannya apa, maksudnya kalau ada suatu tindakan yang liar gitu. Coba gambarkan, tindakannya apa, apakah penggeledahan, apakah penyitaan, apakah OTT, harus jelas-konkret, coba konstruksikan," kata Novel.

"Saya pastikan Anda gagal, karena apa? Itu hoaks," imbuhnya. "Ketika aku jawab begitu, mungkin diambil kesimpulan 'Oh ini suka melawan atasan', hahaha..."

Novel juga mengaku ditanya soal kebijakan pemerintah dan hanya menjawab apa adanya. "Contohnya lagi nih ditanya gini 'Apakah ada kebijakan pemerintah yang merugikan?'" tutur Novel.

"Saya bilang, kalau merugikan secara pribadi nggak ada, tapi merugikan sebagai warga negara, banyak. Contoh UU KPK yang dilemahkan, contoh lagi UU Omnibus Law, UU Minerba," sambungya.

Jawaban ini, tutur Novel, ia sesuaikan pula dengan banyaknya laporan di lapangan. Beberapa kali juga penyidik KPK hampir melakukan OTT karena diberlakukannya UU baru yang merugikan ini.

"Jadi kita tahu permainan uangnya seperti apa, bohirnya siapa, ini segala macam kita tahu," pungkasnya. "Terus kalau kita jawab oh tidak ada, berarti kan kita nggak berintegritas, kita berbohong."

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts