Tsunami COVID-19 India 'Menular' ke Nepal, Bertambah 7 Ribu Lebih Kasus Positif Setiap Hari
AP Photo/Mahesh Kumar A.
Dunia
Pandemi Virus Corona

Berbatasan langsung dengan India yang tengah dihadapkan pada tsunami COVID-19 ternyata membuat Nepal kini seolah ikut kena getahnya. Krisis ini pun diperburuk dengan sistem kesehatan yang kurang baik.

WowKeren - Tsunami COVID-19 di India terus menjadi sorotan internasional, apalagi karena sistem kesehatan di sana yang mulai kolaps tak kuasa membendung ratusan ribu kasus positif baru setiap hari. Dan krisis kesehatan ini rupanya juga mulai "menular" ke negara tetangganya, Nepal.

Untuk diketahui, Nepal berbatasan darat dengan India, sehingga potensi penularan COVID-19 memang cukup tinggi. Dan benar saja, sejak hari Minggu (2/5) kemarin kasus positif COVID-19 di Nepal bertambah konsisten di atas 7 ribu pasien baru setiap hari.

Bahkan pada Kamis (6/5) kemarin Nepal mencatatkan hingga hampir 9 ribu kasus positif dalam sehari. Angka ini bahkan 2 kali lipat jika dibandingkan data hari Sabtu (1/5) yang berada di kisaran 5 ribuan kasus positif harian.

Banyak yang khawatir situasi di Nepal akan jauh lebih memburuk daripada India. Kritikan keras juga langsung terarah untuk Perdana Menteri Nepal, KP Sharma Oli, yang dianggap tak cekatan dalam menghadapi krisis yang terjadi.


Diketahui Oli mengerahkan militer untuk membantu menyediakan fasilitas kesehatan darurat. Nepal juga kini mulai mengharapkan bantuan internasional menghadapi ledakan kasus positif COVID-19, yang bahkan positivity rate-nya dilaporkan sampai 47 persen atau bahkan lebih.

Pemerintah Nepal juga menjadi buah bibir usai menyalahkan tumpukan massa yang menanti giliran vaksin sebagai penyebab penyebaran wabah. Krisis yang terjadi pun diperburuk dengan sistem kesehatan yang lebih lemah serta medan geografis yang sangat sulit ditempuh.

"Negara kami berada di tengah-tengah daratan dan suplai alat kesehatan biasanya datang dari India. Namun sekarang India juga memerlukan untuk negara mereka sendiri," kata Nripendra Khatri dari komunitas Catholic Relief Services. "Ini berarti suplai harus datang lewat jalur udara yang saat ini sudah mengalami banyak pembatasan. Satu-satunya yang berjalan adalah penerbangan dua kali sepekan menuju Delhi, India."

Banyak tempat (di Nepal) yang hanya bisa diakses dengan jalur darat yang berat atau jalan kaki. Menghadapi krisis ini sembari memastikan semua daerah terpencil mendapat akses tes COVID-19 adalah tantangan luar biasa besar," sambungnya.

Nepal memiliki populasi 30 juta orang, namun ICU yang tersedia hanya 1.600 dan mempunyai ventilator kurang dari 600 buah. Bahkan tingkat ketersediaan dokter hanya 0,7 per 100 ribu orang. Kondisi ini pun diperburuk dengan pemerintah Nepal yang sempat mengizinkan festival keagamaan besar seperti Pahan Charhe.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts