Pemerintah Siap Tarik Cukai Plastik Mulai Tahun 2022 Usai Sempat Tertunda Pandemi
Unsplash/roberta errani
Nasional

Setelah sempat ditunda, wacana penerapan cukai plastik siap diimplementasikan mulai tahun depan. Bahkan pemerintah berani menaikkan target penerimaan negara dari sektor ini.

WowKeren - Wacana penarikan cukai dari plastik memang sudah digaungkan sejak beberapa waktu lalu. Namun pandemi COVID-19 menyebabkan wacana itu batal terealisasi.

Kini pemerintah telah menetapkan cukai plastik siap diimplementasikan per tahun 2022 mendatang. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut hal ini sebagai strategi pemerintah mengejar penerimaan perpajakan.

Tak main-main, bahkan pemerintah menaikkan target penerimaan cukai plastik dari 8,37 persen ke 8,42 persen proyeksi penerimaan perpajakan 2021. Atau angka konkretnya naik dari Rp1.499,3 triliun menjadi Rp1.528,7 triliun di Anggaran dan Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2022.

Dengan demikian, kini barang kena cukai di Indonesia bukan hanya terbatas pada hasil tembakau, minuman mengandung etil alkohol atau etil alkohol itu sendiri, tetapi juga plastik. Salah satu latar belakangnya adalah supaya mengurangi dampak plastik terhadap lingkungan.


Lantas sejauh apa persiapan implementasi penarikan cukai plastik ini? "Sedang dipersiapkan regulasinya, nanti ditunggu resminya bisa sudah selesai ditetapkan," jelas Direktur Jenderal Bea Cukai Kemenkeu, Askolani, kepada Kontan pada Jumat (7/5) kemarin.

Namun ada yang berbeda dengan rencana penerapan cukai plastik ini. Sebab sebelumnya pemerintah hanya akan mengenakan cukai terhadap kantong plastik dengan tarif Rp200 per lembar, tetapi kini akhirnya diubah menjadi untuk seluruh produk plastik.

Perihal perubahan nomenklatur target cukai plastik ini pun disambut baik Ekonom Makro Ekonomi dan Pasar Keuangan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia (UI) Teuku Riefky. Pasalnya bila spesifik merujuk pada kantong plastik, diperlukan banyak waktu untuk mengekstensifikasi cukai atas produk plastik lainnya.

"Proses negosiasinya semakin panjang, karena nanti harus koordinasi lagi dengan Kementerian/Lembaga terkait, dan persetujuan DPR RI," terang Riefky, Minggu (9/5). "Dampaknya semakin lama mendapatkan benefitnya dari cukai, kegaduhan mungkin ada sekali saja tapi nanti juga akan berlalu."

Meski demikian ia yakin penerapan cukai ini tidak akan signifikan menurunkan angka penggunaan. Sebab masyarakat mungkin cenderung tidak mempermasalahkan tambahan harga lantaran plastik sudah menjadi kawan untuk setiap transaksi makanan dan minuman.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts