Harga Daging Di Pasar Tembus Rp150 Ribu Per Kilo, Asosiasi Pedagang Sebut Ada 'Permainan'
pexels.com/Markus Spiske
Nasional
Idul Fitri 2021

Masyarakat kembali dihadapkan dengan lonjakan harga pangan, khususnya daging sapi saat Ramadan dan jelang lebaran. APPSI menyebut bahwa lonjakan harga terjadi karena ada unsur 'permainan' persediaan stok.

WowKeren - Sudah menjadi hal yang biasa bagi masyarakat Indonesia dalam menghadapi kenaikan harga pangan dan bahan baku jelang Ramadan dan lebaran seperti daging sapi. Hal itu lantaran selalu terjadi setiap tahunnya.

Meski demikian, pedagang di pasar menganggap masalah lonjakan atau kenaikan harga itu erat kaitannya dengan "permainan" stok dan tentunya permintaan. Namun pedagang mengaku bukan pihaknya lah yang melakukan "permainan" itu.

"Kalau terjadi pengurangan di pasar ini, kurangnya dari pemilik barang-barang besar, bukan pedagang pasar," Ujar Wakil Ketua Umum Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) Ngadiran kepada CNBC Indonesia, Selasa (11/5). "Jika terjadi kelangkaan barang, yang 'main' adalah yang sudah bisa dibaca."

Ngadiran menyebut tidak banyak terjadi kelangkaan komoditas. Namun, pemerintah diharapkan tetap bisa memastikan harganya tidak bergejolak atau menjadi naik secara drastis saat lebaran tiba.


Hingga saat ini, indikasi kenaikan harga masih terlihat. Berdasarkan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional, harga daging sapi di wilayah DKI Jakarta, kini sudah mencapai Rp150 ribu per kilo. Padahal, beberapa hari sebelumnya masih berkisar di Rp146.650 per kilonya.

Ngadiran menjelaskan bahwa harga daging yang lebih dari Rp100 ribu per kilo merupakan daging segar. Harga dari daging sapi pun bergantung pada siapa yang memotongnya.

Jadi, pemerintah diharapkan bisa mengupayakan harga daging sapi segar bisa stabil dan tidak menimbulkan kerugian besar bagi peternak serta pemotong, tetapi juga memberikan harga terjangkau bagi pembeli. Hal itu perlu diperhatikan pemerintah dalam rangka saling menjaga satu dengan yang lain.

Ngadiran menyebut bahwa hal tersebut tentu saja bisa dilakukan oleh pemerintah melalui Kementerian Perdagangan. Ia meyakini bahwa nantinya harga pangan baik daging maupun yang lainnya bisa dikendalikan.

"Saya yakin bisa dikendalikan walau sekarang belum terjaga sekali," tandas Ngadiran. "Tapi ke depan bisa, tinggal kesadaran agar jangan ambil aji mumpung."

(wk/wahy)

You can share this post!

Related Posts