Menunda Suntikan Dosis Kedua Vaksin Corona Disebut Bisa Kurangi Angka Kematian
Pixabay/WiR_Pixs
Health
Vaksin COVID-19

Menteri Kesehatan Singapura Ong Ye Kung sebelumnya menyatakan bahwa negaranya tengah mempelajari apakah interval waktu antara dua suntikan vaksin corona harus diperpanjang.

WowKeren - Ahli kesehatan di Singapura menemukan bahwa memperpanjang waktu antara suntikan vaksin corona dosis pertama dengan dosis kedua dapat memberikan proteksi lebih dan menyelamatkan nyawa. Suntikan vaksin corona dosis pertama disebut telah memberikan perlindungan terhadap COVID-19, sehingga setiap orang dapat "menunggu sedikit lebih lama dengan aman" untuk suntikan kedua mereka.

Salah satu studi menunjukkan bahwa strategi ini dapat membantu mengurangi infeksi COVID-19 dan kematian jika kondisi tertentu terpenuhi. Sebuah studi terpisah juga menunjukkan bahwa menunda suntikan dosis kedua dapat meningkatkan respons kekebalan pada beberapa orang.

Menteri Kesehatan Singapura Ong Ye Kung sebelumnya menyatakan bahwa negaranya tengah mempelajari apakah interval waktu antara dua suntikan vaksin corona harus diperpanjang untuk memungkinkan lebih banyak orang mendapatkan perlindungan dari dosis pertama. Menurutnya, penelitian internasional menunjukkan bahwa satu dosis vaksin corona telah menawarkan "perlindungan yang baik".

Ong Ye Kung juga menambahkan bahwa waktu antara dua dosis dapat diperpanjang menjadi antara enam minggu dan delapan minggu tanpa "mempengaruhi kemanjuran vaksin secara material". Diketahui, Singapura selama ini mengikuti anjuran produsen vaksin corona, yakni interval waktu tiga minggu untuk Vaksin Pfizer-BioNTech dan interval waktu empat minggu bagi Vaksin Moderna.


Profesor Dale Fisher selaku konsultan senior di divisi penyakit menular Rumah Sakit Universitas Nasional, mengatakan bahwa meningkatkan interval penerimaan dua dosis Vaksin Corona adalah "strategi yang baik" yang "sangat" didukung oleh studi ilmiah. "Bahkan memperpanjang (interval) hingga 12 minggu pada akhirnya menunjukkan tanggapan kekebalan yang lebih kuat. Pada saat yang sama kita bisa mendapatkan lebih banyak orang yang divaksinasi lebih awal," tuturnya dikutip dari CNA, Selasa (18/5).

Sementara itu, Presiden Asia Pacific Society of Clinical Microbiology and Infection, Profesor Paul Tambyah, mengatakan strategi baru ini bisa membuat Singapura memvaksinasi orang dua kali lebih banyak sambil menunggu pasokan baru. Sedangkan Wakil Dekan (Kesehatan Global) di Sekolah Kesehatan Masyarakat Saw Swee Hock di Universitas Nasional Singapura, Associate Professor Hsu Li Yang, menilai bahwa jumlah orang yang divaksinasi sangat penting karena Singapura kini memerangi berbagai varian virus corona baru.

"Jika secara kebetulan kita tidak dapat menahan penyebaran B1617 atau varian lain yang muncul di masa depan, maka memiliki jumlah orang yang telah divaksinasi lebih banyak akan menyelamatkan nyawa dan dapat membantu mengurangi ukuran wabah," jelasnya.

Di sisi lain, studi pemodelan prediktif Amerika Serikat juga menunjukkan bahwa menunda suntikan dosis kedua di kalangan orang-orang di bawah usia 65 tahun dapat mengurangi kematian akibat COVID-19. Namun ada kondisi spesifik yang harus dipenuhi, di antaranya adalah menggunakan vaksin yang memiliki kemanjuran setidaknya 80 persen, dan memiliki tingkat vaksinasi harian antara 0,1 persen dan 0,3 persen dari populasi.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts