Deddy Corbuzier Rasakan Beratnya Jadi Seorang Mualaf Selama 2 Tahun: Pusing Bos
Instagram/mastercorbuzier
Selebriti

Deddy Corbuzier menceritakan pengalamannya selama dua tahun ini menjadi seorang mualaf. Tak mudah, Deddy justru merasakan betapa beratnya menjadi seorang muslim, namun ia menikmatinya.

WowKeren - Dua tahun yang lalu, Deddy Corbuzier mantap pindah keyakinan menjadi seorang muslim. Bukan hal yang mudah tentunya bagi Deddy untuk beradaptasi dengan kebiasaan barunya.

Selain soal kewajiban-kewajiban yang harus dijalankan oleh seorang muslim, Deddy juga merasa perlu beradaptasi dengan mayoritas masyarakat Indonesia yang menganut agama Islam. Namun setelah dua tahun menjadi mualaf, Deddy baru merasakan betapa beratnya.

"Setelah gue jadi muslim, pusing bos," ungkap Deddy Corbuzier di kanal YouTube Refly Harun, Senin (7/6).

Bapak satu anak itu pun mencontohkan saat dia kerap mengundang Gus Miftah di podcast YouTube. Deddy mengaku kerap dibilang berguru pada orang yang salah.

"Karena saya dekat, terus saya itu sering podcast sama beliau karena pada saat itu di talkshow dan di TV sudah banyak pakai beliau. Jadi ini itu rentetan (dari kejadian-kejadian yang melibatkan Gus Miftah)," jelas Deddy.

"Lalu ada netizen-netizen yang bilang, 'wah gurunya salah nih, gurunya nggak benar'. (Padahal) buat saya Gus Miftah itu luar biasa, buat saya. Tapi yaudah lah, nggak usah diambil pusing," tambahnya lagi.


Tak berhenti di situ, Deddy kembali diserang komentar netizen setelah mengundang Ustaz Khalid Basalamah ke podcast-nya. Diketahui, kehadiran sang ulama di podcast Deddy Corbuzier untuk meluruskan beredarnya potongan video mengenai larangan menyanyi lagu kebangsaan "Indonesia Raya."

"Terus contoh sederhana (lainnya), kemarin saya ada podcast sama Ustaz Khalid Basalamah, tapi diserang sama netizen, 'ini nggak bener, kenapa nggak Gus Miftah aja yang diundang'. Ada orang DM ke Gus Mifta, ada orang DM ke Ustaz Khalid," beber Deddy.

Deddy pun mengaku bingung dengan pemikiran para netizen yang selalu negatif. "Terus gue bingung dan jadi mikir, 'emang kita nggak boleh berdialog dengan siapa pun'," tanya Deddy.

"Lo mau berbeda kan itu paham mereka, tapi lo kan bisa ambil yang terbaik dari dua orang yang berbeda untuk kita dengarkan," imbuhnya.

Hingga pada akhirnya, Deddy menyadari bahwa yang tejadi di dalam umat Islam dampak dari politik identitas. Ia berharap kedepannya masyarakat Indonesia, terutama muslim tak meributkan hal semacam ini lagi.

"Akhirnya saya sadar satu hal, kok di dalamnya saja pecah. Nah saya berpikir, bisa saja kericuhan ini terjadi karena mungkin saat itu ada politik identitas. Harusnya kedepannya nggak ngeributin ini dong, yang mau beda pendapat yang nggak papa. Asal jangan menghujat bahwa orang ini bener, orang ini salah," tutupnya.

(wk/lara)

You can share this post!

Related Posts