BOR RS COVID-19 Jabar Tinggi dan Mulai Siaga, Kemenkes Langsung Minta Hal Ini
farsnews.ir/Mohsen Atayi
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Tingkat keterisian ranjang (BOR) RS untuk pasien COVID-19 di Jabar sudah mencapai lebih dari 60 persen serta kini berstatus siaga. Kementerian Kesehatan pun turut menyoroti fenomena tersebut.

WowKeren - Wabah COVID-19 Indonesia tengah tak bisa dipandang remeh. Bahkan tingkat keterisian ranjang (BOR) rumah sakit COVID-19 di Jawa Barat sudah mencapai 62,65 persen, di mana kisaran 60 persen sudah menjadi alarm tersendiri.

Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Jabar mengungkap, BOR RS setempat sudah meningkat 2-3 persen dan dalam status siaga. "Kalau dibandingkan dengan minggu lalu ini pertambahannya cukup tinggi," tegas Ketua Divisi Penanganan Kesehatan Satgas COVID-19 Jabar, Marion Siagian, di Gedung Sate, Bandung, Jumat (11/6).

Dengan desakan keterisian RS yang kian mengkhawatirkan, otoritas berwenang di Kota Bandung pun sedang melakukan skrining. Harapannya dapat ditentukan mana pasien-pasien bergejala yang perlu dirawat atau bisa menjalani isolasi mandiri.

Tingkat keterisian ini jelas berkaitan dengan angka kasus yang terus melonjak setidaknya selama sepekan belakangan. "Kami mencatat dari tanggal 28 Mei atau 15 hari setelah Lebaran ini kasus sudah cukup meningkat jadi ada 1.200 kemudian turun lagi menjadi 800. Tetapi di pekan terakhir ini kita mencapai di atas seribu," tuturnya.


"Ini harus kita antisipasi dan waspadai. Dan kita lihat juga kasus sekarang klasternya klaster keluarga, ini akibat kita banyaknya kita berinteraksi dengan keluarga dan orang lain," sambungnya, sebelum menambahkan klaster lain yang turut menyumbang banyak pasien COVID-19 adalah klaster perkantoran.

Krisis ini pun turut ditanggapi oleh Kementerian Kesehatan yang menyuarakan satu harapan penting. Yakni agar jangan sampai Indonesia tidak mencapai puncak kasus dan krisis wabah COVID-19 bisa segera menurun.

"Jangan sampai puncak kasusnya terjadi. Karena kalau terjadi, fasilitas kesehatan pasti tidak akan sanggup melayaninya, makanya harus menurunkan," kata Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 dari Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, Jumat (11/6). "Kita tarik grafiknya (puncak) ke arah sana (kanan agar melandai).

Tentu saja caranya sederhana. Yakni dengan menjaga pelaksanaan protokol kesehatan serta sebaiknya masyarakat lebih sadar dan peka atas gejala-gejala COVID-19.

"Kalau gejala enggak enak langsung tes dan isolasi mandiri. Itu upaya untuk memutus penularan pada keluarga," pungkasnya. "Kita harus yakin kalau kita positif apakah orang sekitar kita pasti ada kemungkinan tidak tertular selama kita mendeteksi diri kita dan isolasi."

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts