Tanggapi Kasus Kerja Paksa, Kemlu RI Berhenti Kirim Mahasiswa ke Taiwan
Nasional

Juru bicara Kemlu, Arrmanatha C. Nasir, menyatakan pihaknya akan menghentikan perekrutan mahasiswa Indonesia ke Taiwan untuk sementara.

WowKeren - Enam universitas di Taiwan diduga mengirim ratusan mahasiswa asal Indonesia ke pabrik-pabrik untuk menjalani kerja paksa. Diungkapkan oleh Liberty Times, keenam universitas ini telah menandatangani perjanjian pelajar dari New Southbound Policy (NSP) untuk mengisi posisi buruh manual di pabrik.

Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Indonesia langsung menanggapi kasus tersebut. Menurut juru bicara Kemlu, Arrmanatha C. Nasir, pihaknya telah mendapat laporan dari Kantor Dagang Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei. KDEI Taipei menerima pengaduan dari sejumlah mahasiswa Indonesai peserta skema kuliah-magang di Taiwan.

"Menindaklanjuti laporan ini, KDEI Taipei telah meminta keterangan dan berkoordinasi dengan otoritas setempat guna mendalami implementasi skema kuliah-magang yang yang berlangsung mulai 2017 tersebut," ujar Arrmanatha di Jakarta, Rabu (2/1). "KDEI Taipei juga telah meminta otoritas setempat untuk mengambil langkah, sesuai aturan setempat, yang diperlukan guna melindungi kepentingan serta keselamatan mahasiswa peserta skema kuliah-magang."

Untuk mengatasi masalah tersebut, Arrmanatha menyebut Indonesia akan menghentikan sementara perekrutan dan pengiriman mahasiswa skema kuliah-magang. Penghentian ini dilakukan hingga disepakatinya tata kelola yang lebih baik.


"Saat ini terdapat sekitar 6.000 mahasiswa Indonesia di Taiwan," terang Arrmanatha. "Dengan sekitar 1.000 mahasiswa yang ikut dalam skema kuliah-magang di 8 universitas yang masuk ke Taiwan pada periode 2017-2018."

Sebelumnya, anggota parlemen Taiwan, Ko Chi-hen, melaporkan kondisi mengejutkan ratusan mahasiswa asal Indonesia. Ia menyebut bahwa para mahasiswa tersebut diizinkan masuk ke kelas selama 2 hari per minggu dan mendapatkan 1 hari untuk beristirahat.

Yang lebih mengejutkan, makanan yang diberikan bagi para mahasiswa Indonesia yang bekerja di pabrik tersebut mengandung daging babi. Padahal sebagian besar mahasiswa beragama muslim.

Ko juga menjelaskan bahwa para mahasiswa ini menghadiri kelas internasional khusus. Mereka pergi melalui Departemen Manajemen Informasi pada pertengahan Oktober tahun lalu. Sebanyak 300 mahasiswa Indonesia lalu dikirim oleh Universitas Hsing Wu ke pabrik di Distrik Linkou, New Taipei City, melalui seorang broker.

(wk/Bert)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait