Sebut 'Politikus Kutu Loncat', Megawati Tegaskan Tak Asal Comot Pilih Caleg
Nasional

Meski sempat alami kekalahan di Pemilu-Pemilu sebelumnya, namun partai ini tak akan mengambil jalan pintas.

WowKeren - Tak sedikit politikus yang berpindah dari satu partai politik ke partai yang lain. Fenomena ini adalah hal lazim dalam panggung politik Indonesia.

Terkait fenomena tersebut, Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) menyindir para politikus yang suka berpindah atau disebut "kutu loncat". Ia menegaskan bahwa pihaknya tidak akan sembarangan memilih kader partai untuk memenangkan pemilu.


Hal tersebut ia kemukakan saat berpidato di acara perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-46 PDI Perjuangan yang diselenggarakan di di JIExpo Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis (10/1). Dalam pidatonya tersebut, ia menyebut bahwa PDIP telah mengalami pasang surut. PDIP juga pernah kalah dalam Pemilu 2004 dan 2009.

"PDIP mengalami pasang naik dan pasang surut," kata Megawati di Jakarta Pusat, Kamis (10/1). "Kita alami kekalahan dalam pemilu. Contoh pada 2004 dan 2009."

Meskipun begitu, kekalahan tersebut tak lantas membuat partai ini memilih jalan pintas. Megawati menegaskan bahwa pihaknya tidak asal comot kader. Apalagi merekrut Caleg dari partai politik lain.

"Meskipun kalah, partai ini tidak pernah pilih jalan pintas," kata Megawati. "Tak asal comot Caleg apalagi dari parpol lain."

Megawati menyebut bahwa PDIP adalah partai yang terbuka bagi siapapun. Meski demikian, hal itu bukan berarti ia menerima siapa saja masuk ke dalam partainya. Penyaringan harus tetap dilakukan.

Ia menghindari adanya orang yang mendadak mengaku sebagai kader partai saat Pemilu berlangsung. Megawati menyebutnya sebagai kader karbitan. Ia tak ingin ada kader yang ketika tidak direkomendasikan maka langsung loncat ke partai lain.

Sebab menurutnya, PDIP bukan merupakan batu loncatan untuk memperoleh kekuasaan. Hal ini mengingat fenomena kutu loncat pada umumnya dilatar belakangi oleh motif untuk menuju kekuasaan dan keuntungan semata.

"Mengaku kader tapi ketika tak direkom lalu loncat ke partai lain," tegas Megawati. "Partai ini bagi kami bukan kendaraan untuk lompat kekuasaan. Ada fenomena pragmatisme politik."

Penegasan Megawati akan hal ini bukanlah tanpa alasan. Fenomeona kutu loncat pernah terjadi di dalam tubuh partai yang dipimpinnya itu. Namun, Megawati mengaku bahwa ia tak perlu menyesal kehilangan kader partai semacam itu.

You can share this post!

Related Posts
Loading...