Elektabilitas PSI Naik Jadi 1 Persen Dinilai Berkat Iklan 'Udah..Udah' Grace Natalie
Instagram/gracenat
Nasional

Sebelumnya, elektabilitas PSI hanya berada di angka nol koma. Namun, partai pimpinan Grace Natalie itu terkerek hingga 1 persen pada survei terbaru lantaran dinilai makin dibicarakan di media sosial.

WowKeren - Jelang Pemilu 2019 pada 17 April mendatang, serangkaian survei masih dilakukan. Salah satunya mengenai elektabilitas sebuah partai.

Dilakukan pada periode 22 Februari hingga 5 Maret yang lalu, Litbang Kompas merilis survei elektabilitas yang salah satunya mengikutsertakan Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Parpol baru yang diketuai Grace Natalie itu disebut hanya memiliki elektabilitas sebanyak 0,9 persen.


Menurut pengamat komunikasi politik dari Universitas Indonesia, Ari Junaedi, PSI diprediksi tidak lolos electoral threshold. Pasalnya, tutur Ari, PSI banyak melakukan blunder.

Sementara itu, pada hasil survei terbaru yang dilakukan Indikator Politik Indonesia, elektabilitas PSI disebutkan meningkat. Tercatat, partai baru ini memiliki elektabilitas hingga 1,3 persen.

Terkait kenaikan elektabilitas PSI, Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddi Muhtadi, menduga lantaran adanya iklan yang getol diberikan PSI. Salah satunya adalah iklan Grace Natalie sebagai Ketua Umum PSI yang banyak beredar.

"Mungkin berkat iklan 'udah, udah' itu. Baru kali ini kami menemukan elektabilitas PSI di atas 1 persen," terang Burhanuddin di Cikini, Jakarta pada (3/4). Diketahui, Grace dalam iklannya memang menyebut kata-kata seperti "Udah..Udah" sebagai penutup.

Iklan PSI diketahui memang menjadi bahasan viral di media sosial. Banyak video YouTube membicarakan iklan yang mengusung gaya anak muda tersebut.

Di sisi lain, PSI dinilai sebagai partai yang kurang santun dalam berpolitik. Hal itu juga disampaikan oleh Ari Junaedi. Menurutnya, PSI memiliki gaya berpolitik seperti anak remaja. "PSI tidak bisa melepaskan diri dari gaya anak muda yang tempramental," jelas Ari dilansir Republika pada Kamis (21/3) yang lalu.

Tak hanya itu, Ari juga menyebut bahwa PSI sering menyinggung partai lain, bahkan sesama anggota koalisi pendukung Joko Widodo. Seharusnya PSI tidak membuat permusuhan dengan partai-partai senior dan bermain di isu-isu milenial dulu saja. Pasalnya, "target pasar" PSI memang kalangan milenial atau pemilih pemula.

"Ini kan tidak, PSI membuka front pertempuran dengan partai-partai senior," ujar Ari. "Tidak peduli yang ada di dalam koalisi atau tidak, serta tidak menggarap intens pasar potensialnya."

You can share this post!

Related Posts
Loading...