Wakil Kepala SKK Migas Sukandar menyampaikan bahwa insiden tersebut sepenuhnya menjadi tanggung jawab Pertamina. Ia menargetkan masalah ini bisa selesai dalam waktu tiga bulan.
- Zodiak Yanuarita
- Senin, 29 Juli 2019 - 14:25 WIB
WowKeren - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) meminta agar Pertamina segera menutup sumur ONWJ. Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto mengatakan peristiwa bocornya gas disertai tumpahan minyak yang mencemari wilayah pesisir di Karawang bisa menjadi pelajaran bagi BUMN tersebut.
"Ini menjadi pelajaran betul, banyak hal perlu diperbaiki Pertamina," kata Dwi di kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (29/7). "Kita harapkan tidak terjadi lagi ke depan."
Dwi mendesak agar Pertamina berusaha maksimal untuk menyelesaikan masalah ini. Sebab, kebocoran minyak dan gas ini sangat mencemari lingkungan. Ia meminta agar tumpahan minyak tidak sampai merambah ke pantai.
"Oil boom diperbanyak," tegas Dwi. "(Tumpahan minyak) harus dikumpulkan dan disedot, kurangi target jangan sampai ada minyak terbawa ke arah pantai."
Tumpahan minyak tersebut sudah merambah ke tujuh desa yang ada di pesisir. Kondisi bibir pantai menghitam akibat tercampurnya air laut di wilayah perairan utara Karawang dengan minyak mentah.
Oleh sebab itu, Dwi mendesak agar Pertamina mempercepat proses penutupan sumur dengan drilling well. Sebab jika tidak, maka tumpahan minyak akan terus menyebar. "Selama belum tertutup, kepastian akan terus ada. Jadi tidak bisa jamin bahwa dampak yang ini sudah berhenti," tegas Dwi.
Akibat insiden kebocoran ini, proyek PHE ONWJ yang ditargetkan mulai berproduksi pada 2019 terpaksa tidak bisa mencapai target. Sementara itu, Wakil Kepala SKK Migas Sukandar juga menyampaikan hal senada. "Ini penanganan harus cepat agar oil spill tidak kemana-mana," kata Sukandar.
Sukandar menargetkan agar permasalahan ini bisa segera teratasi dalam waktu tiga bulan. Adapun insiden tersebut sepenuhnya menjadi tanggung jawab Pertamina. "Paling lama tiga bulan. Ini sumurnya nanti harus mati," ujar Sukandar.
(wk/zodi)