Beredar Isu Jokowi Bakal Diberi Gelar Putra Reformasi, Aktivis HAM Geram
Nasional

Aktivis HAM, Haris Azhar, menilai tidak ada alasan kuat mengapa gelar tersebut harus diserahkan kepada Joko Widodo sebab menurutnya masih ada kasus HAM yang belum selesai.

WowKeren - Sebuah foto surat yang beredar di media sosial berkop Universitas Trisakti bernomor 339/AK.15/USAKTI/R/IX/2019 baru-baru ini menjadi sorotan. Pasalnya, dalam surat itu disebutkan bahwa Universitas Trisakti akan memberi gelar Presiden Joko Widodo alias Jokowi sebagai Putra Reformasi.

Salah satu pegiat HAM yang juga merupakan alumni Usakti, Haris Azhar, tidak sepakat dengan rencana tersebut. Ia mengaku sedih sebab Jokowi sendiri masih belum mampu menuntaskan kasus-kasus pelanggaran HAM yang terjadi di masa lalu, termasuk yang paling menuai sorotan yakni kasus kerusuhan 12 Mei 1998.


"Sebagai alumni dan Dosen FH Usakti (Fakultas Hukum Universitas Trisakti) sedih, prihatin, dan marah," kata Haris, Minggu (22/9). "Niat itu dilancarkan tanpa standar moral dan nilai hukum yang jelas. Apalagi Dies Natalies tahun ini ketuanya Dekan FH Usakti. Kok bisa-bisanya dia luput dengan nilai tersebut?"

Dalam surat yang beredar di jagad maya tersebut, disebutkan bahwa pemberian gelar kepada Jokowi didasarkan pada karya dan keberhasilan presiden dalam mendukung gerakan reformasi.

Haris mengaku kaget dengan beredarnya surat tersebut. Sementara itu, pihak kampus dikatakannya masih belum memberikan klarifikasi. Hal ini membuatnya curiga.

"Saya kaget membaca surat tersebut atau lebih jauhnya, kaget mengetahui niat tersebut. Sejauh ini, pihak kampus belum melakukan klarifikasi. Ini mencurigakan," lanjut Haris. "Dalam arti, saya curiga ini memang akal-akal panitia Dies Natalies Usakti untuk kasih gelar putera reformasi ke Presiden, tapi dilakukan dengan cara diam-diam."

Haris melihat bahwa tidak ada alasan yang kuat untuk memberikan gelar tersebut pada Jokowi. Lebih jauh, ia menyebut bahwa hal tersebut hanyalah bentuk upaya mencari popularitas yang dilakukan pihak kampus.

"Situasi ini tidak lepas dari kekacauan di dalam Usakti sendiri. Ada konflik antara Yayasan dan Rektorat," tegas Haris. "Bertahun tahun membuat kualitas universitas menurun, sehingga kampus mencari cara-cara yang pragmatis untuk cari popularitas, dengan memberikan Gelar Putera Reformasi ke Presiden."

You can share this post!

Related Posts
Loading...