Kerap Tunda Penerbangan Gegara Pesawat Kurang, Sriwijaya Air Tekor 3,2 Miliar
Nasional
Sriwijaya Air vs Garuda Indonesia

Bentuk ganti rugi untuk kegiatan operasional bervariasi tergantung pada berapa lama pesawat delay. Selama periode September, Sriwijaya Air telah mengeluarkan miliaran rupiah untuk itu.

WowKeren - Sengketa kerja sama yang terjadi antara Sriwijaya Air dengan anak Garuda Indonesia Group berbuntut panjang. Salah satunya pada sektor keuangan yang berantakan.

Direktur Operasi Sriwijaya Air Capt. Fajar Semiarto menjelaskan, potensi yang memberatkan keuangan perusahaan adalah terkait service recovery atau uang ganti rugi untuk kegiatan operasional. Dalam satu hari, biaya yang dikeluarkan untuk ganti rugi bisa mencapai hampir Rp 1 miliar.


"Ada potensi memang, tapi dana untuk service recovery baik retiming penalty 30 menit, 1 jam, 2 jam, 3 jam sampai pax transfer itu dananya masih ada," tutur Fajar di Jakarta, Senin (30/9). "Tapi dalam sehari saya bisa tanda tangan mungkin mendekati Rp 1 miliar untuk service recovery."

Sekjen Asosiasi Serikat Pekerja Sriwijaya Air, Sunandar, menjelaskan secara detail bentuk service recovery yang harus dikeluarkan. Customer relation Sriwijaya Air tersebut menuturkan jika pesawat delay selama 30 menit kompensasi diberikan air mineral, 1 jam snack, dan jika sudah lebih dari 2 jam adalah makanan berat.

"Kita biasanya kasih KFC atau MCD," tutur Sunandar. "Nah untuk harganya tergantung dari lokasinya."

Tak cukup sampai di situ, berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 89 Tahun 2015, jika telat hingga 4 jam, maskapai harus membayarkan kompensasi hingga Rp 300 ribu. Bahkan maskapai juga harus membelikan tiket pengganti ke maskapai lainnya jika penumpang ingin tetap berangkat.

Persoalan tersebut tak lepas dari sengketa yang tengah berlangsung antara Sriwijaya Air dengan PT Citilink Indonesia hingga berbuntut pada pengurangan jumlah pesawat Sriwijaya Air. Ditambah lagi dengan sikap GMF Aero Asia yang tak lagi membantu Sriwijaya Air, membuat jumlah armada maskapai ini semakin berkurang.

Jika mulanya Sriwijaya Air mengoperasikan 30 pesawat, maka akibat sengketa KSM tersebut kini hanya tersisa 12 unit. Sehingga mau tidak mau, maskapai harus memangkas jumlah penumpang hingga membatalkan penerbangan. Dilansir dari Detik Finance, selama periode 3 hingga 26 september 2019, total service recovery yang sudah dikeluarkan mencapai Rp 3,2 miliar.

You can share this post!

Related Posts