Titik Api Kembali Meningkat, Karhutla Sumsel Capai 361 Ribu Hektare
Nasional
Darurat Kabut Asap Kalimantan

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Selatan Iriansyah mengatakan sebagian besar titik api ada di kawasan hutan gambut.

WowKeren - Masalah kebakaran hutan dan lahan rupanya masih belum sepenuhnya tuntas. Di Sumatera Selatan, tercacat jumlah titik api justru mengalami peningkatan.

Dilansir dari CNN Indonesia, jumlah titik api terpantau meningkat pada Jumat (8/11). Padahal, hujan telah mulai mengguyur wilayah tersebut. Karhutla telah menghanguskan sedikitnya 361.857 hektare.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Selatan Iriansyah mengatakan daerah dengan luas kebakaran terbesar adalah Ogan Komering Ilir (OKI). Jumlah lahan yang rusak mencapai 204.974. Lalu terluas kedua adalah lahan di wilayah Banyuasin dan disusul Musi Banyuasin.

Ia menuturkan bahwa sebagian hampir sepenuhnya kebakaran hutan disebabkan oleh aktor manusia. Meskipun penyebab kebakaran hutan kerap dikaitkan dengan faktor alam, dalam hal ini adalah suhu yang panas, hal itu hanya faktor minor.


"Kebakaran lahan di Sumsel 99 persen disebabkan oleh ulah manusia," kata Iriansyah. "Baik disengaja atau lalai. Faktor alam, kondisi cuaca yang sangat panas hanya memberi sumbangsih sekitar 1 persen."

Ia menuturkan bahwa sebagian besar lahan yang terbakar merupakan kawasan gambut, yakni seluas 220 ribu hektare dari total 361 ribu. Kebakaran hutan tak hanya menyebabkan rusaknya tatanan ekologis yang merupakan hal buruk pada lingkungan. Namun, asap dari karhutla juga cukup membahayakan. Akibatnya, jumlah penderita ISPA pun juga dilaporkan meningkat sepanjang Agustus-September.

"Karhutla tahun ini memang tidak sebesar pada 2015 lalu," tutur Iriansyah. "Berdasarkan jumlah titik api dan jumlah kebakarannya masih tidak separah itu. Tapi dampaknya sangat buruk."

Ke depan, ia ingin agar masyarakat yang tinggal di kawasan rawan kebakaran bisa lebih mengedepankan sektor perikanan dan peternakan. Aktivitas pembakaran hutan untuk membuat lahan baru harus dikurangi sedikit demi sedikit.

"Ke depan, upaya pencegahan kebakaran harus didorong," lanjut Iriansyah. "Masyarakat di kawasan rawan terbakar harus didukung mengedepankan kemandirian perekonomian dengan meningkatkan sektor perikanan dan peternakan, mengurangi aksi pembakaran."

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts