Merasa Janggal, Yusril Minta Perjanjian Kerja Sama Garuda dan Sriwijaya Diaudit
Nasional
Sriwijaya Air vs Garuda Indonesia

Yusril menilai performa Sriwijaya tidak bertambah baik di bawah manajemen Garuda Indonesia Grup. Oleh karena itu, ia meminta perjanjian kerja sama Garuda-Sriwijaya diaudit.

WowKeren - Hubungan dua perusahaan maskapai yakni PT Sriwijaya Air dan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. kembali memburuk pada Kamis (7/11). Sriwijaya pun bertekad untuk tetap melanjutkan bisnisnya sendiri tanpa kerja sama dengan Garuda lagi.

"Kami merujuk pada status terkini kerja sama manajemen antara Sriwjaya dan Citilink, anak usaha Garuda Indonesia. Karena ada sejumlah masalah dimana kedua pihak belum bisa diselesaikan," tutur Direktur Perawatan dan Servis Garuda Indonesia, Iwan Joeniarto pada Kamis (7/11). "Dengan berat hati, kami menginformasikan bahwa Sriwijaya melanjutkan bisnisnya sendiri."


Usai retaknya kembali hubungan Garuda-Sriwijaya tersebut, salah satu pemegang saham di Sriwijaya, Yusril Ihza Mahendra meminta agar perjanjian kerja sama antara kedua pihak diaudit. Hal ini karena Yusril merasa ada yang janggal dalam manajemen Sriwijaya selama dikelola oleh Garuda Indonesia Grup sejak November 2018.

Yusril menyatakan keraguannya terhadap pengelolaan manajemen Sriwijaya selama dioperasikan oleh Garuda Indonesia Grup sejak November 2018. Selain itu, kuasa hukum Sriwijaya Air tersebut juga meragukan pembayaran utang perusahaannya selama manajemen dikendalikan oleh Garuda Indonesia Group.

“Garuda juga bilang selama mereka manage, utang Sriwijaya berkurang 18 persen," ujarnya seperti dikutip Tempo pada Senin (11/11). "Kami juga tidak percaya, audit saja."

Tak hanya itu, sebelumnya, pihak emiten berkode saham GIAA tersebut mengklaim bahwa selama operasional dijalankan oleh Garuda Indonesia Grup mampu membuat kinerja Sriwijaya meningkat. Usai merugi hingga Rp1,6 Triliun pada 2018, laporan keuangan maskapai diklaim berbalik menjadi positif pada kuartal I/2019 seiring dengan perbaikan manajemen dan strategi perusahaan.

Akan tetapi, Yusril masih meragukan capaian kinerja tersebut. Hal ini karena selama kerja sama manajemen berlangsung, pihak Sriwijaya Air justru lebih banyak dirugikan. Sebab, terlalu banyak konflik kepentingan antara anak-anak perusahaan Garuda Indonesia dengan Sriwijaya.

Menurutnya, performa Sriwijaya juga tidak bertambah baik di bawah manajemen yang diambil alih oleh Garuda Indonesia Grup melalui Citilink. Justru, perusahaan menjadi tidak efisien dan terjadi pemborosan yang tidak perlu.

"Kami tidak percaya (jadi lebih baik saat KSM)," tutur Yusril. "Makanya Pak Luhut minta BPKP dan auditor independen untuk audit benar apa tidak."

Menanggapi hal tersebut, Pelaksana Tugas Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Iswan Elmi mengatakan pihaknya siap mengaudit kerja sama yang dilakukan oleh anak perusahaan Garuda Indonesia, Citilink, dengan maskapai Sriwijaya Air. Namun, audit tersebut baru akan dilakukan jika ada permintaan dari kedua belah pihak.

Sementara itu, menurutnya sampai saat ini belum ada pengajuan yang diajukan oleh kedua belah pihak. Tanpa adanya pengajuan audit tersebut, BPKP juga tidak akan bisa memulai audit. “Dua-duanya harus mengajukan, kecuali tindak pidana korupsi, enggak perlu persetujuan,” katanya.

Sebelumnya, Yusril mengungkapkan bahwa pihak Garuda Indonesia terlalu mengintervensi pihak Sriwijaya. "Jadi pihak Sriwijaya merasa bahwa dominasi Garuda terlalu jauh intervensinya kepada Sriwijaya," katanya.

Kerja sama tersebut awalnya diharapkan agar dapat meningkatkan kinerja Sriwijaya Air. Namun, justru membuat Sriwijaya kian terpuruk. Pasalnya, manajemen Sriwijaya dibuat tidak efisien, salah satunya yakni terkait akomodasi bagi kru pesawat.

"Selama ini Sriwijaya punya asrama-asrama untuk menampung kru pesawat dipindahkan ke hotel," kata Yusril. "Jadi cost memang akhirnya menjadi lebih mahal daripada selama ini di-manage Sriwijaya sendiri."

You can share this post!

Related Posts