Gerindra 'Lancarkan Serangan' Usai Ahok Diisukan Jadi Bos BUMN
Nasional
Ahok Jadi Bos BUMN

Wasekjen Partai Gerindra Andre Rosiade mengingatkan agar Menteri Erick Thohir menimbang secara matang baik-buruk keterlibatan Ahok di BUMN, termasuk rekam jejak sang eks gubernur di beberapa kasus.

WowKeren - Nama mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (BTP) alias Ahok tengah menjadi sorotan publik. Pasalnya Ahok disebut-sebut akan menjadi petinggi salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Isu ini pun bukan sekadar kabar liar, sebab Ahok sendiri mengaku telah diajak mengurusi BUMN oleh Menteri Erick Thohir. Namun demikian Ahok masih belum mengetahui di BUMN mana dirinya akan ditempatkan. Pihak Kementerian BUMN pun enggan memberikan informasi gamblang perihal ini.


Rencana bergabungnya Ahok ke jajaran petinggi BUMN ini pun menimbulkan beragam reaksi. Salah satunya dari Wakil Sekretaris Jenderal Partai Gerindra Andre Rosiade.

Politikus yang juga berkarier sebagai anggota Komisi VI DPR RI itu langsung mengingatkan perihal potensi kisruh yang bakal terjadi apabila Ahok dipilih sebagai bos BUMN. Kendati demikian, Andre mengaku tetap menerima hasil akhirnya karena penunjukan direksi BUMN merupakan wewenang Presiden Joko Widodo dan sang menteri.

"Itu wewenang Presiden. Jangan sampai seperti ketika jadi gubernur, semuanya dilabrak," ujar Andre, dilansir dari Viva pada Rabu (13/11). "Nanti bukan menenangkan malah bikin tambah kisruh."

Selain itu, Andre pun turut mengimbau agar Erick berkonsultasi terlebih dahulu dengan dua lembaga sebelum mengambil keputusan. Yakni Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Saran ini ia kemukakan bukan tanpa alasan. Pasalnya hingga kini Ahok masih memiliki rekam jejak di dua kasus yang belum jelas penyelesaiannya. Yakni kasus Sumber Waras dan pembelian tanah di Cengkareng, Jakarta Barat yang konon merupakan properti milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Sementara itu, isu liar perihal posisi pasti Ahok di BUMN tengah ramai dibahas. Kekinian ada setidaknya dua perusahaan pelat merah yang disebut-sebut menjadi pilihan untuk karier Ahok ke depannya, yakni antara PT PLN (Persero) atau PT Pertamina (Persero).

Dari kedua perusahaan tersebut, Ahok lebih banyak dikaitkan dengan Pertamina. Hal ini terbukti dari pernyataan seorang sumber anonim di lingkungan Kementerian BUMN. "Pertamina," ujarnya, seperti dilansir Detik Finance.

Namun informasi ini tak dibenarkan pula dibantah oleh pihak Kementerian BUMN. Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga hanya meminta masyarakat untuk lebih sabar menunggu karena pergantian direksi masih dibahas intens oleh pihak-pihak terkait.

You can share this post!

Related Posts
Loading...