Kiprah Menhan Prabowo Subianto memang menjadi salah satu yang paling dinantikan publik Indonesia. Yang terbaru, Prabowo meminta guru-guru untuk kembali mengajarkan perihal pemberontakan PKI kepada siswa.
- Elvariza Opita
- Sabtu, 23 November 2019 - 19:53 WIB
WowKeren - Kiprah Menteri Pertahanan Prabowo Subianto memang terus dinantikan publik. Tak ayal langkah-langkah yang ditempuhnya pun menjadi perhatian.
Yang terbaru, Prabowo meminta para guru supaya rajin menceritakan sejarah pemberontakan dan kekejaman Partai Komunis Indonesia (PKI) kepada siswa-siswi di sekolah. Hal ini disampaikan lewat pidato Prabowo yang disampaikan oleh Rektor Universitas Pertahanan, Letjen TNI Tri Legionosuko dalam sebuah acara bedah buku dan diskusi panel, Sabtu (23/11).
"Saya harap guru sejarah di sekolah-sekolah menyampaikan sejarah pemberontakan dan kekejaman PKI yang benar kepada para siswa-siswi," kata Tri, membaca pidato Prabowo. Hal ini ia sampaikan sejalan dengan tema yang diangkat dalam agenda tersebut, yakni "PKI Dalang dan Pelaku Kudeta G30S/1965".
Menurut Prabowo, hal ini perlu dilakukan supaya siswa-siswi mengerti bagaimana sepak terjang PKI dan dampak dari gerakan tersebut. Termasuk kudeta yang dilakukan oleh partai tersebut untuk menggulingkan era kepemimpinan Presiden ke-1 RI Ir Soekarno.
Bahkan, lanjut Prabowo, PKI kala itu juga bertujuan untuk mengubah ideologi bangsa. Bila semula Indonesia berpegang pada Pancasila sedianya diubah menjadi komunis.
"Komunisme telah mencatatkan lembaran hitam dalam perjalanan sejarah Bangsa Indonesia," jelasnya, dilansir dari laman Kompas. "Bahwa PKI selalu mencari cara dan kesempatan untuk melakukan kudeta di Indonesia."
Selain itu, Prabowo juga menyoroti perihal negara-negara beraliran komunis yang masih berusaha menyebarluaskan paham tersebut, seperti misalnya Tiongkok dan Kuba. Dan bukan tak mungkin paham tersebut juga akan mengalir ke Indonesia.
"Ideologi komunis dan gerakan komunisme di Indonesia, patut diduga masih eksis," pungkasnya. "Untuk itu, kita harus selalu meningkatkan kewaspadaan terhadap bahaya laten komunis."
(wk/elva)