Kabar digunakannya sampah plastik sebagai bahan bakar pembuatan tahu di Sidoarjo sempat heboh. Ternyata, mereka sudah biasa menggunakan bahan bakar tersebut sejak puluhan tahun lalu.
- Wahyu
- Rabu, 27 November 2019 - 12:44 WIB
WowKeren - Beberapa waktu lalu, masyarakat sempat dihebohkan dengan kabar pemakaian limbah plastik impor sebagai bahan bakar pembuatan tahu di sentra industri Desa Tropodo, Kecamatan Krian, Sidoarjo, Jawa Timur. Bahkan, Media Amerika Serikat pun turut menyoroti hal ini.
Setelah dilakukan wawancara lebih lanjut, terungkap fakta yang cukup mengejutkan. Hal ini karena ternyata penggunaan limbah plastik impor sebagai bahan bakar pembuatan tahu itu sudah berjalan selama 20 tahun. Hal ini diungkapkan oleh salah satu pengusaha tahu di Desa Tropodo yakni Gufron.
Ia pun kecewa kepada Pemerintah Kabupaten Sidoarjo karena baru belakangan ini melarang penggunaan limbah plastik impor untuk pembuatan tahu. Padahal, penggunaan sampah plastik ini sudah dilakukan sejak dulu dalam produksi pembuatan tahu.
"(Penggunaan plastik impor) sudah sejak zaman dulu digunakan (sebagai bahan bakar pembuatan tahu). Siapa bisa melarang? Ya tidak bisa," ungkap Gufron yang dilansir Kompas pada Rabu (27/11). "Kenapa tidak dari dulu, kenapa baru sekarang dilarang?"
Gufron pun mengungkapkan alasan dirinya menggunakan sampah plastik sebagai bahan bakar untuk memasak kedelai menjadi tahu. Menurutnya, penggunaan sampah plastik tersebut dapat menghemat biaya produksi. Hal ini akhirnya membuat harga tahu dapat bersaing karena produksi bahan bakar yang dikeluarkan tidak menguras biaya besar.
"Saya punya pabrik tahu sudah berjalan tiga tahun dan sejak awal menggunakan sampah plastik," ungkap Gufron. "Kenapa menggunakan sampah plastik, ya karena lebih murah, lebih cepat panas, lebih kuat dan lebih lama habis," imbuhnya.
Pengusaha tahu tersebut mengatakan bahwa tidak hanya dirinya dan beberapa pengusaha yang menggunakan limbah plastik. Menurutnya, sudah banyak pengusaha di sana yang memakai limbah tersebut sebagai bahan bakar.
Gufron pun menginginkan agar pemerintah bisa memberikan solusi dengan mencari bahan pengganti alternatif yang mudah didapat, murah, dan ramah lingkungan. Hal ini karena bahan bakar pengganti berupa wood pellet atau pelet kayu yang ditawarkan Pemkab Sidoarjo dinilai tidak memberikan solusi.
"Menurut saya bahan bakar pengganti ini bukan solusi," ujar Gufron kepada wartawan pada Selasa (26/11). "Karena proses pemanasan tahu ini membutuhkan panas yang tinggi."
(wk/wahy)