Ikatan Awak Kabin Garuda Indonesia Terbelah Jadi 2 Kubu Gara-Gara Kebijakan Ari Askhara
Nasional

Ikatan Awak Kabin Garuda Indonesia (IKAGI) terbelah menjadi kubu pimpinan Zaenal Muttaqin dan juga kubu pimpinan Achmad Haeruman. Keduanya hendak menemui Menteri BUMN Erick Thohir hari ini (9/12).

WowKeren - Ikatan Awak Kabin Garuda Indonesia (IKAGI) kini tengah terbelah menjadi 2 kubu akibat kebijakan di era kepemimpinan I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra alias Ari Askhara. Ada kubu IKAGI pimpinan Zaenal Muttaqin dan juga kubu IKAGI pimpinan Achmad Haeruman.

Kedua kubu pun hendak menemui Menteri BUMN Erick Thohir di Kementerian BUMN pada hari ini (9/12). Kubu Zaenal mendatangi Kementerian BUMN dengan membawa 68 pramugari yang kompak mengenakan batik.


Menurut salah satu pramugari, Hersanti, para awak kabin termasuk juga pramugari dipekerjakan tidak manusiawi. Pasalnya, dalam penerbangan ke luar negeri yang membutuhkan waktu belasan jam, para awak kabin tidak diizinkan menginap melainkan hari PP (pulang-pergi).

"Saya kemarin baru terbang PP Jakarta-Melbourne, itu badan rasanya enggak enak. Ini baru mendarat kemarin dan saya sampaikan ke sini bahwa badan saya tidak enak banget," tutur Hersanti di Kementerian BUMN dilansir Kumparan pada Senin (9/12). "Saya ke sini agak meriang juga, 18 jam saya harus bekerja, buka mata, dan lain-lain."

Meski pramugari diharuskan PP, para pilot dan kopilot justru diberi inap dalam penerbangan 18 jam ke Melbourne. Hersanti sendiri mengaku sudah bekerja selama 30 tahun untuk Garuda namun baru menemui kebijakan PP ini di bawah kepemimpinan Ari Askhara, yakni sejak Agustus 2019.

Sementara itu, Sekjen IKAGI pimpinan Zaenal, Jacqueline, mengaku bahwa peraturan PP belasan jam ini dibuat oleh direksi di era Ari Askhara. Jacqueline juga menjelaskan bahwa kebijakan ini membuat kesehatan para awak kabin terganggu, bahkan tercatat sudah banyak yang harus masuk ke rumah sakit.

"Sekarang sudah ada 8 orang yang diopname. Menurut mereka itu masih masuk jam kerja dan terbang, tapi dalam pengaturan seharusnya tidak boleh abaikan yang namanya static risk management system," jelas Jacqueline. "Itu akan kami sampaikan (ke Erick Thohir), itu keluhan, itu harapan, bersama kita bangun Garuda Indonesia."

Di sisi lain, kubu IKAGI pimpinan Achmad Haeruman membantah klaim kerja 18 jam tanpa istirahat. Menurut anggota IKAGI pimpinan Achmad, Tomy Tampati, tidak ada pemerasan terhadap waktu kerja awak kabin. Ia bahkan menyebut bahwa Garuda di bawah Ari Askhara memberikan garansi terbang 60 jam per minggu.

"Saya sampaikan terkesan kayanya awak kabin diperas, diperlakukan enggak adil. Sekarang ini awak kabin sejak Ari Ashkara dikasih guarantee jam terbang 60 jam, kalau enggak sampai tetap dibayar," pungkas Tomy. "Karena ada operasional terganggu beberapa kita setop. Kita bingung kayaknya mereka tidak disejahterakan. Ini yang kita luruskan."

You can share this post!

Related Posts