Intip Sistem Zonasi Ala 'Mas Menteri' Nadiem, Lebih Longgar dan Untungkan Siswa Berprestasi
Instagram/kemdikbud.ri
Nasional
Gebrakan Mendikbud Nadiem

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim, mengaku sadar bahwa tidak semua wilayah siap menjalani kebijakan zonasi penerimaan siswa baru yang begitu kaku.

WowKeren - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim merombak sejumlah kebijakan. Usai mantap akan menghapus Ujian Nasional, kini "Mas Menteri" Nadiem bakal melonggarkan sistem zonasi untuk penerimaan siswa baru.

Komposisi kuota pun diubah sehingga para siswa berprestasi dapat memilih sekolah favorit. "Kami sadar, enggak semua daerah itu siap untuk suatu policy zonasi yang sangat rigid (kaku)," terang Nadiem dalam Rapat Koordinasi Dinas Pendidikan Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Indonesia di Jakarta Selatan pada hari ini (11/12).


Sebelumnya, sistem zonasi ini membagi jatah kuota penerimaan siswa baru ke dalam 80 persen untuk siswa yang bermukim di kawasan zonasi sekolah, 15 persen untuk siswa berprestasi, dan 5 persen untuk siswa perpindahan. Kini, Nadiem akan mengubah komposisi tersebut supaya lebih longgar, khususnya bagi para siswa berprestasi.

"Jadi arahan kebijakan ke depannya adalah sedikit kelonggaran kita memberikan di zonasi. Yang tadinya prestasi 15 persen sekarang jalur prestasi kami perbolehkan sampai 30 persen," ungkap Nadiem. "Jadi bagi orang tua yang sangat semangat mem-push anaknya untuk mendapatkan angka-angka yang baik untuk mendapatkan prestasi yang baik, inilah menjadi kesempatan untuk mereka untuk mencapai sekolah yang mereka inginkan."

Selain itu, kuota bagi siswa yang bermukim di kawasan zonasi sekolah juga akan dikecilkan. Mantan CEO Gojek tersebut akan menurunkan kuota yang tadinya 80 persen menjadi 50 persen.

Sedangkan kuota jalur afirmasi untuk pemegang Kartu Indonesia Pintar tetap 15 persen. Dan kuota untuk jalur perpindahan domisili orangtua juga tetap 5 persen.

Kebijakan zonasi ini dilandasi oleh semangat pemerataan pendidikan. Namun, Nadiem menuturkan bahwa pemerataan tersebut tak cukup hanya dilakukan lewat zonasi saja. Cara zonasi juga harus diimbangi dengan pemerataan kualitas para guru.

Tak hanya itu, sistem zonasi juga dilandasi oleh semangat menghapus favoritisme sekolah. Namun, Nadiem menyebut bahwa kini para siswa berprestasi bebas menentukan sekolah idamannya.

"Zonasi masih bisa mengakomodir anak-anak berprestasi," pungkas Nadiem. "Kita memberi langkah pertama kemerdekaan belajar di Indonesia."

You can share this post!

Related Posts