Penyerang Novel Baswedan Teriakkan 'Pengkhianat', Makna Mengejutkan Terungkap
Nasional
Kasus Penyerangan Novel Baswedan

Pengamat ekspresi Handoko Gani mengungkap analisisnya soal makna di balik teriakan 'pengkhianat' oleh polisi penyerang Novel Baswedan. Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.

WowKeren - Setelah lebih dari dua tahun bergulir, akhirnya kasus penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan menemui titik terang. Sebab pada Jumat (27/12) lalu, akhirnya pelaku yang bertanggung jawab atas insiden tersebut berhasil diciduk Polri. Mirisnya, kedua pelaku merupakan anggota Polri aktif berinisial RM dan RB.

Kedua tersangka pun diserahkan ke Bareskrim Polri pada Sabtu (28/12) sekitar pukul 14.26 WIB. Tak pelak kehadiran keduanya pun langsung disambut awak media, namun tak sepatah kata pun mereka sampaikan.


Tetapi secara tiba-tiba seorang pelaku, RB, berteriak keras kepada awak media. "Tolong dicatat. Saya tidak suka Novel karena dia pengkhianat," seru RB sebelum memasuki mobil.

Video ketika RB meneriakkan soal pengkhianat itu pun langsung viral di media sosial. Berbagai spekulasi beredar, membuat sejumlah pihak mendesak Polri untuk fokus pada pernyataan sang tersangka.

Teriakan tersangka RB pun membuat pakar ekspresi Handoko Gani ikut memberikan pendapatnya. Sebagai informasi, Handoko merupakan satu-satunya warga sipil yang memiliki otoritas untuk menggunakan alat layered voice analysis (LVA), alat yang kerap dipakai mendeteksi kebohongan seseorang alias human lie detector.

Handoko pun mengungkapkan analisisnya soal makna di balik teriakan tersebut. Dan hasilnya pun cukup mengejutkan, sebab menurut Handoko tak ada emosi atau kemarahan dari tersangka tersebut.

Menurut Handoko, tak ada pergolakan emosi, selayaknya orang yang memendam amarah atau dendam, pada sosok pelaku tersebut. Kalau pun RB menggunakan nada tinggi, Handoko menegaskan bahwa itu tak melulu menunjukkan ledakan emosi.

"Bahwa tidak ada emosi marah sebagaimana yang mungkin diduga, di raut wajah, dalam video yang singkat itu," jelas Handoko, Minggu (29/12). "Nada tinggi bukan berarti seratus persen marah apalagi dendam. Bisa juga bawaan anatomi tubuh.

Handoko lantas mencontohkan adanya beberapa etnis Indonesia yang warganya terbiasa menggunakan nada tinggi. Atau ada beberapa profesi yang mengharuskan seseorang menggunakan nada tinggi ketika berbicara, termasuk polisi.

Kendati demikian, Handoko menegaskan bahwa analisisnya hanya bisa dianggap sebagai hipotesis awal. Berikut penjelasan Handoko, dikutip dari Detik News.

"Hasil analisis saya, tidak bisa dijadikan kesimpulan. Tapi bisa dijadikan hipotesis awal," ujar Handoko. "Perlu video durasi panjang dalam konteks investigasi atau interview langsung."

"Kenapa durasi pendek (teriakan 'Novel pengkhianat') tadi tidak bisa dijadikan sebagai patokan?" imbuh Handoko. "Adalah karena selain pendek tadi, bahkan dengan alat lie detector (LVA) tidak bisa dideteksi karena noise dan durasinya yang pendek."

You can share this post!

Related Posts