Ramai Wacana Pemulangan WNI Eks ISIS, Ini Kata Ibunda Balita yang Jadi Korban Bom Samarinda
Nasional
Pro-Kontra Pemulangan WNI Eks ISIS

Orangtua balita yang jadi korban pelemparan bom molotov di Gereja Oikumene, Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim), pada 2016 lalu ikut angkat bicara soal wacana pemulangan WNI mantan simpatisan ISIS.

WowKeren - Wacana pemulangan ratusan Warga Negara Indonesia (WNI) yang sempat menjadi simpatisan ISIS kini tengah ramai dibahas. Pemerintah sendiri kini masih belum mengambil keputusan terkait wacana tersebut.

Menanggapi wacana pemulangan tersebut, orangtua korban pelemparan bom molotov di Gereja Oikumene, Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim) pun angkat bicara. Dalam teror yang terjadi pada akhir 2016 tersebut, balita bernama Trinity Hutahaean yang saat itu masih berusia 3 tahun turut menjadi korban.


Ibu Trinity, Sarina Gultom, mempertanyakan mengapa para WNI eks ISIS tersebut hendak dipulangkan. Sarina juga menyebut bahwa wacana pemulangan WNI eks ISIS ini membangkitkan trauma korban.

"Untuk apa mereka pulang. Mereka adalah orang-orang yang kejam," tutur Sarina di Samarinda, dilansir detikcom pada Jumat (7/2). "Mereka bantai saudaranya sendiri, dan mengaku menyesal, lalu ingin pulang. Apakah masyarakat Indonesia tidak khawatir? Mereka adalah bibit terorisme."

Diketahui, dalam teror bom gereja tersebut Trinity menderita luka bakar terparah. Sarina selaku orangtua Trinity lantas menilai bahwa pemulangan ratusan WNI eks ISIS tersebut berisiko tinggi.

Ia mempertanyakan mengapa pemerintah tidak memperhatikan mereka yang telah menjadi korban teror di Indonesia. Sarina pun memint agar pemerintah membatalkan wacana tersebut.

"Pemerintah tidak mempedulikan kami para korban. Pemerintah memilih memulangkan mereka, sementara kami yang menjadi korban kenapa tidak diperhatikan," ujar Sarina. "Saya sangat menolak mereka pulang."

Lebih lanjut, Sarina tak dapat membayangkan bagaimana jadinya apabila ratusan WNI eks ISIS tersebut jadi kembali ke Tanah Air. Sarina secara pribadi meyakini bahwa tidak ada teroris yang benar-benar sembuh, terlebih mereka yang sebelumnya telah memilih untuk meninggalkan negaranya sendiri.

"Mereka itu teroris, mereka bunuh orang-orang tidak berdosa. Pemerintah Indonesia mau pulangkan mereka, sama saja pemerintah izinkan mereka makin besar," terang Sarina. "Atau seluruh Indonesia mau dipenuhi teroris seperti mereka."

Selain itu, Sarina juga menyinggung soal biaya besar yang pasti dibutuhkan untuk memulangkan para WNI eks ISIS tersebut. Padahal, tutur Sarina, pihaknya tidak mendapat bantuan dari pemerintah meski anaknya telah menjadi korban teror. Trinity sendiri hingga kini masih menjalani operasi perbaikan kedua tangannya yang tak berfungsi.

"Pemerintah tidak adil. Sampai hari ini saya masih di China untuk operasi Trinity. Pemerintah Indonesia tidak sama sekali memberi bantuan untuk pengobatan," pungkas Sarina. "Pemprov Kaltim hanya membantu operasi di tingkat RS AW Sjahranie, selebihnya sampai sekarang, kami biaya sendiri."

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts