Sebut Kerajaan Galuh Cuma Fiktif, Budayawan Ridwan Saidi Terancam Dipolisikan
Twitter/kemenag_ri
Nasional

Pernyataan kontroversial budayawan Ridwan Saidi terkait Kerajaan Galuh di Jawa Barat membuat sejumlah tokoh hingga unsur masyarakat Ciamis geram hingga melayangkan protes.

WowKeren - Budayawan Ridwan Saidi baru-baru menarik banyak perhatian terkait pernyataannya soal Kerajaan Galuh di Ciamis, Jawa Barat. Diketahui, Ridwan sempat menyebut bahwa Kerajaan Galuh tidak ada alias fiktif. Selain itu, Ridwan juga menyebut bahwa Galuh memiliki arti kata brutal.

Sejumlah tokoh hingga unsur masyarakat Ciamis pun memprotes keras pernyataan Ridwan tersebut. Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil bahkan menyebut pernyataan itu telah menyakiti warga Jabar.


"Kalau tidak punya dasar, jangan sembarangan bikin statement," tutur Gubernur yang akrab disapa Kang Emil tersebut dilansir Kompas.com, Sabtu (15/2). "Kalaupun ada dasar, tidak usah menyakiti hati, menurut syariat juga kan bicaralah yang baik, kalau tidak, diam."

Kini, Ridwan Saidi diancam akan dilaporkan ke polisi oleh budayawan sekaligus Ketua Majelis Adat Sunda Mochamad Ari Mulia. Ari mendesak agar Ridwan Saidi membuktikan ucapannya soal Kerajaan Galuh.

"Saya kira Ridwan Saidi harus buktikan omongannya bahwa Galuh bukan kerajaan atau fiktif, lalu galuh itu brutal menurut bahasa Armenia," tutur Ari dilansir CNN Indonesia, Minggu (16/2). "Itu buktikan dulu, kamus Armenia yang mana lalu buku sejarah yang mana bahwa tidak ada Kerajaan Galuh? Kalau tidak bisa buktikan, proses hukum yang akan buktikan."

Menurut Ari, kebebasan berpendapat memang diterapkan di zaman sekarang. Namun, pendapat tersebut juga harus berdasarkan pada fakta dan bukti yang dapat diterima kebenarannya.

"Memang harus hati-hati dalam mengucap, harus ada dasarnya. Apalagi sejarah itu bicara literatur, apa yang dia pakai sehingga bilang galuh brutal?" ujar Ari. "Jangan gitu kalau mau beken, jangan sakiti hati orang lain."

Lebih lanjut, Ari mengaku siap untuk beradu argumen dengan Ridwan terkait sejarah Kerajaan Galuh. "Kami bisa buktikan ini sejarahnya ada dari mulai zaman Tarumanagara dan bagaimana lahirnya Galuh. Ada catatan sejarahnya," pungkas Ari.

Sebelumnya, pernyataan kontroversial tersebut disampaikan Ridwan dalam video bertajuk "GEGEER !! TERNYATA KERAJAAN KERAJAAN DI INDONESIA SANGAT DITAKUTI DI DUNIA" yang diunggah ke YouTube pada 12 Februari 2020. Video tersebut berdurasi 12 menit 32 detik.

"Saya mohon maaf dengan saudara dari Ciamis. Di Ciamis itu enggak ada kerajaan, karena indikator eksistensi kerajaan itu adalah indikator ekonomi, Ciamis penghasilannya apa? Pelabuhannya kan di selatan bukan pelabuhan niaga, sama dengan pelabuhan kita di Teluk Bayur, bagaimana membiayai kerajaan," kata Ridwan dalam video tersebut.

"Lalu diceritakanlah ada raja Sunda Galuh. Sunda Galuh saya kira agak keliru penamaan itu, karena galuh artinya brutal, jadi saya yakin tidak ada peristiwa Diah Pitaloka, wanita dari Sunda Galuh itu dipanggul-panggul dibawa ke Hayam Wuruk untuk dikawinin. Itu yang dikatakan perang bubat, sedangkan bubat itu artinya lapang olahraga bukan nama tempat. Jadi di bubat yang mana dia perang. Juga di Indonesia tidak ada adat perempuan mau kawin dijunjung-junjung dianterin ke rumah lelaki itu kagak ada, itu tidak Indonesia," lanjutnya.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts