Sejauh ini, implementasi tersebut sudah diterapkan sebesar 70 persen sedangkan target keseluruhan ada 5.518 SPBU di Indonesia yang akan mengalami digitalisasi.
- Zodiak Yanuarita
- Senin, 24 Februari 2020 - 14:18 WIB
WowKeren - PT Pertamina (Persero) telah berupaya untuk menerapkan digitalisasi nozzle pada SPBU. Untuk merealisasikan hal ini, Pertamina telah bekerja sama dengan PT Telekomunikasi Indonesia sejak dua tahun lalu.
Sejauh ini, implementasi tersebut sudah diterapkan sebesar 70 persen dari target keseluruhan 5.518 SPBU. Pertamina memastikan bahwa pihaknya memiliki standar yang sama untuk pengawasan baik untuk SPBU milik BUMN tersebut maupun swasta.
"Sama saja treatment-nya," kata VP Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman dilansir CNBC Indonesia, Senin (24/2). "Baik yang milik Pertamina maupun milik swasta, total target 5.518 SPBU."
Secara keseluruhan, SPBU yang dikelola oleh Pertamina jumlahnya hanya ada 138 unit sedangkan sisanya milik swasta. Fajriyah menegaskan semua SPBU COCO sudah terpasang Automatic Tank Gauge (ATG).
"Yang milik Pertamina (COCO) ada 138," jelas Fajriyah. "Selebihnya swasta, namun treatment-nya sama semua menuju ke digitalisasi. Yang COCO tersebut seluruhnya sudah terpasang ATG."
Dengan progres sejauh itu, Pertamina menargetkan digitalisasi ini akan selesai pada pertengahan 2020. Digitalisasi ini memungkinkan Pertamina untuk melakukan pengecekan, pemantauan, dan penjualan serta transaksi pembayaran di SPBU secara lebih mudah.
Hal senada juga disampaikan oleh Anggota Komite BPH Migas Lobo Balia. "Kita cuma bilang kita tunggu selesai kapan ini akan membantu mengawasi memperketat pendistribusian Jenis BBM Tertentu (JBT) itu yang paling penting," ungkap Balia masih dilansir CNBC Indonesia.
Ia menyebut bahwa proses digitalisasi yang dilakukan oleh Pertamina cukup memakan waktu karena masalah teknikal. Tak hanya faktor waktu untuk memasang kabel maupun elektrik namun juga faktor jumlah SPBU di Indonesia yang lebih dari 5 ribu.
"Jadi mungkin dulu Pertamina merasa dengan teknologi yang dia pilih bisa cepat ternyata enggak ya. Itu teknikal kok masalahnya jadi nggak ada masalah lain kalau terlambat," sebut Balia.
(wk/zodi)