YN (43), ibu dari 4 anak di Serang, Banten dilaporkan meninggal dunia pada Senin (20/4) sore. Bukan karena COVID-19, YN disebut-sebut meninggal dunia usai menahan lapar selama 2 hari lamanya.
- Elvariza Opita
- Selasa, 21 April 2020 - 12:52 WIB
WowKeren - Pemerintah pun sedaya upaya memberikan bantuan sosial untuk mengentaskan masalah ini. Mirisnya, seorang ibu di Serang, Banten justru dikabarkan meninggal dunia sebelum bantuan itu sampai ke tangannya. Belakangan beredar kabar bahwa sang ibu meninggal akibat kelaparan.
Yulie Nuramelia (43) dikabarkan mengembuskan napas terakhirnya pada Senin (20/4) sore, sekitar pukul 15.09 WIB. Dan selama 2 hari sebelumnya Yulie bersama keluarganya harus menahan lapar sampai 2 hari lamanya dengan meminum air galon isi ulang. Hal ini dilakukan lantaran keluarganya tak lagi ada pemasukan di tengah wabah COVID-19.
Memang sang suami, Muhammad Holik (49) hanya bekerja sebagai seorang pencari barang rongsokan dan pemulung. Anak sulung mereka bekerja sebagai buruh, dan pekerjaan keduanya pun terhambat karena pandemi Corona.
Penyebab meninggalnya Yulie masih terus diselidiki. Sebab Holik mengaku istrinya tak menunjukkan gejala atau keluhan apapun, apalagi sebelumnya mereka juga sudah sempat menerima bantuan dari para relawan dan donatur.
"Pagi segar, sehat. Tidak ada keluhan," kata Holik, dilansir dari CNN Indonesia, Selasa (21/4). "Karena ada pikiran kalau kata dokter. Mungkin banyak orang yang ngomongin."
Holik sendiri membenarkan bahwa bantuan dari pemerintah terlambat datang ke rumahnya. Dengan tak adanya penghasilan, ia dan keluarganya terpaksa menahan lapar dengan mengonsumsi air galon isi ulang selama 2 hari berturut-turut, bahkan termasuk sang anak bungsu yang masih bayi.
Beruntung kemudian sejumlah relawan datang dan memberikan bantuan bagi mereka. "Kalau ada yang bilang keluarga Ibu Yulie enggak kelaparan, itu bohong. Waktu saya kasih bantuan, itu roti, langsung dimakan sama anaknya," jelas Rochman Setiawan, salah seorang relawan yang sempat memberi bantuan langsung kepada keluarga Holik dan Yulie.
Namun tanggapan skeptis sempat diberikan oleh Lurah Lontar Baru, Dedi Sudradjat. Ia mengaku tak yakin keluarga dengan 4 anak itu harus menahan lapar selama 2 hari dengan meminum air galon isi ulang saja.
Ia juga mengaku masih menyelidiki penyebab kematian Yulie. Sebab tim medis sudah mengonfirmasi Yulie tak terjangkit COVID-19. Dedi juga meyakini kelaparan bukan penyebab Yulie sampai mengembuskan napas terakhir.
"Kalau penyebabnya saya belum tahu pasti, tapi dokter bilang bukan COVID-19," pungkas Dedi. "(Menahan lapar) saya kira bukan itu. Pihak puskesmas bilang meninggal di jalan. Bukan juga (meninggal) karena kelaparan."
(wk/elva)