Tenaga Medis Ikhlas Lebaran Pakai ‘Baju Zirah’ APD, Beri Pesan Ini Buat Warga Bandel
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Kisah haru tenaga medis di Indonesia ikhlas sambut Idul Fitri dengan memakai ‘baju zirah’ alat pelindung diri (APD), beri pesan ini bagi warga yang tetap bandel semasa pandemi corona.

WowKeren - Masyarakat Indonesia saat ini tengah merayakan Hari Raya Idul Fitri 1441 Hijriah pada Minggu (24/5) hari ini. Perayaan lebaran di tahun 2020 ini juga terasa berbeda dari tahun-tahun sebelumnya akibat ada pandemi virus corona (COVID-19).

Bahkan, para petugas medis yang berada di garda depan dalam melawan pandemi COVID-19 tidak bisa merayakan hari suci ini. Sejumlah petugas medis lantas mengaku telah ikhlas untuk tidak berlebaran di tahun ini demi menangani wabah corona yang semakin mengkhawatirkan di Indonesia.


Seorang petugas medis yang bernama Diah Cahyaningsih (23) mengungkapkan jika ia tidak bisa bersilahturahmi dengan orang tua di kampung halamannya di Klaten, Jawa Tengah. Padahal, tradisi tersebut biasa dijalankannya saat lebaran dari tahun ke tahun.

Diah yang bekerja sebagai Analis Kesehatan Laboratorium atau ATLM mengaku tidak bisa mengambil cuti. Pasalnya, pekerjaannya dalam menanggulangi COVID-19 cukup banyak. Ia bahkan jarang pulang ke rumah untuk beristirahat.

Semasa pandemi ini, Diah bekerja 12 jam sehari dan bertugas mengambil sampel pasien untuk rapid test dan tes corona. Selanjutnya ia menganalisisnya di laboratorium hingga menyiapkan diagnosis untuk penanganan dokter.

”Tadinya bisa pulang ke rumah sekarang jarang pulang ke rumah. Mungkin bisa seminggu sampai 2 minggu sekali,” cerita Diah seperti dilansir dari CNNIndonesia, Minggu (24/5). “Tenaganya lebih kekuras banget pokoknya, lebih capek, lebih lelah.”

Pekerjaan yang membahayakannya tersebut membuah Diah memilih menginap di RS lantaran takut menularkan virus mematikan ini ke orang yang tinggal bersamanya. Ia mengaku lebaran tahun ini menjadi yang terberat lantaran ia tidak bisa berkumpul bersama keluarga.

Sebagai gantinya, Diah justru harus disiplin mengenakan alat pelindung diri (APD) yang membuatnya tidak nyaman dalam bekerja demi terhindar dari COVID-19. Seluruh tubuhnya meski dibalut dengan masker, kacamata pelindung, hasmat, dan baju APD yang sangat menyesakkan.

Tak heran, Diah menyatakan rasa geramnya saat melihat banyaknya masyarakat yang bandel tidak mempedulikan protokol kesehatan. Ia lantas membayangkan beratnya beban yang mesti diemban rekan-rekan seprofesinya.

Apalagi, saat ini banyak kasus petugas medis kekurangan APD. Diah pun mengaku ngeri membayangkan mereka menggunakan APD seadanya dalam menangani virus yang telah membunuh lebih dari 340 ribu jiwa di seluruh dunia ini.

”APD tadinya enggak pernah sampai kehabisan stok, sampai sempat kekurangan. Setelah itu, alhamdulillah donasi berdatangan,” ujar Diah. “Semoga semuanya punya kesadaran untuk tetap di rumah saja. Karena tanpa kerja sama semua pihak pun sama saja.”

Hal serupa diungkapkan oleh seorang perawat yang bekerja di salah satu RS Swasta Salemba, Dodhy Novanda. Ia mengungkapkan kesedihan tidak bisa menikmati hari kemenangan dengan keluarganya di tanah Minang.

Pria berusia 31 tahun ini harus selalu bersiap di RS akibat jumlah pasien yang ditangani semakin banyak. Sebelumnya, ia hanya menangani pasien yang memerlukan tindakan operasi, namun kini ia juga harus menangani pasien orang dalam pemantauan (ODP) dan orang tanpa gejala (OTG) COVID-19.

Bahkan, Dodhy kini sampai harus bekerja melebihi jam normal biasanya. Ia juga tidak dapat santai lagi lantaran cukup tersiksa harus mengenakan APD sepanjang jam bekerja. Namun, ia berusaha membiasakan diri dengan new normal yang ada.

”Dulunya kami tidak pakai hasmat (APD), agak nyantai lah,” ungkap Dodhy. “Kalau sekarang, tidak cuma waktunya (shift panjang) tapi pemakaian hasmat yang menyiksa.”

(wk/lian)

You can share this post!

Related Posts