Jelang New Normal, Epidemiolog Peringatkan Potensi Klaster Corona di   Sekolah
Nasional
Skenario New Normal COVID-19

Pakar epidemiologi Universitas Indonesia (UI), Syahrizal Syarif, mengingatkan bahwa pemerintah supaya lebih bijak dalam menerapkan konsep new normal di dunia pendidikan, khususnya di sekolah atau pesantren.

WowKeren - Pemerintah Indonesia diketahui tengah bersiap untuk menerapkan konsep new normal di tengah pandemi corona (COVID-19). Pakar epidemiologi Universitas Indonesia (UI), Syahrizal Syarif, lantas mengingatkan bahwa pemerintah harus lebih bijak dalam menerapkan konsep new normal di dunia pendidikan, khususnya di sekolah.

"Normalitas baru di satuan pendidikan harus dijaga dengan baik," ujar Syarif melansir Tempo pada Selasa (2/6). "Agar tidak menjadi sumber klaster baru penularan COVID-19 di masyarakat."


Penerapan konsep new normal di fasilitas pendidik seperti sekolah atau pesantren dinilai akan lebih kompleks dan sulit dibanding di transportasi umum atau pusat perbelanjaan. Pasalnya, fasilitas pendidikan yang kembali dibuka akan meningkatkan jumlah kontak orang per satuan waktu. Ini merupakan satu dari tiga faktor penting dalam upaya penurunan angka reproduksi aktual virus.

Adapun dua faktor lainnya adalah kemungkinan tertular jika ada yang sakit dan lama waktu potensi penularan. Kedua faktor ini harus bisa dikurangi dengan menggunakan protokol kesehatan dan deteksi dini terhadap mereka yang sakit.

"Sudah jelas anak-anak tidak mempunyai kerentanan yang lebih rendah dibanding orang dewasa," jelas Syarif. "Walau gejala klinis yang muncul lebih ringan jika mereka terinfeksi."

Oleh sebab itu, pemerintah dinilai perlu menyusun kesiapsiagaan yang baik untuk menghadapi new normal di dunia pendidikan. Mulai dari orang tua murid, pihak sekolah, fasilitas sarana prasarana hingga sistem pemantauan dan respons yang tepat harus disiapkan sebelum membuka sekolah dan pesantren di tengah pandemi corona ini.

Lebih lanjut, Syarif juga menjelaskan bahwa perlu ada kesiapsiagaan satuan pendidikan untuk melaksanakan protokol kesehatan. Mulai dari cek suhu tubuh, pencegahan infeksi, hingga menjaga jarak dalam ruang belajar.

"Termasuk meniadakan ekstra kurikuler yang menyebabkan perkumpulan dan bersentuhan," ujar Syarif. "Seperti kegiatan seni, olahraga, dan budaya di sekolah."

Selain itu, Syarif juga mengingatkan pemerintah untuk bersiap dan menjaga agar tidak ada stigma negatif terhadap murid, guru, atau staf sekolah yang kemungkinan terjangkit COVID-19. "Di samping itu dukungan psikososial bagi yang membutuhkan akibat ketakutan situasional," pungkas Syarif.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts