Selandia Baru Klaim Kalahkan Corona, Australia Bantah dan Ungkap Potensi Mengerikan Ini
Dunia
Pandemi Virus Corona

Seorang guru besar dari Universitas Sydney, Australia mengungkap adanya potensi mengerikan yang bisa terjadi di Selandia Baru kendati saat ini negara tersebut sudah 'menang' dari wabah virus Corona.

WowKeren - Bila ditanya negara mana yang sudah berhasil mengatasi pandemi COVID-19, tentu Selandia Baru menjadi salah satu yang disebut. Bahkan negara itu diklaim berhasil "mengalahkan" virus Corona karena belum melaporkan adanya tanda-tanda gelombang kedua wabah usai mencabut lockdown.

Namun belum lama ini pakar epidemiologi asal Australia, Profesor Michael Ward, mewanti-wanti Selandia Baru agar lebih berhati-hati. Sebab ia bersama dua rekan ilmuwannya dari Sekolah Kesehatan Masyarakat Fudan di Shanghai, Tiongkok menemukan adanya potensi mengerikan perihal perkembangan wabah virus Corona di Selandia Baru.

Menurut Ward, ada potensi peningkatan angka infeksi virus Corona penyebab COVID-19 seiring dengan meningkatnya tingkat kelembaban udara. Apabila kelembaban meningkat sebanyak 1 persen, maka ada potensi jumlah kasus COVID-19 meningkat sebanyak 6 persen.

Potensi mengerikan ini tak boleh diabaikan, baik oleh Australia maupun Selandia Baru, terutama menjelang musim dingin. Sedangkan sedianya kedua negara itu, yang berada di belahan bumi selatan, akan memasuki musim dingin tak lama lagi.

"COVID-19 sepertinya adalah penyakit musiman yang sangat ditentukan oleh kelembaban udara, biasa terjadi ketika kelembaban udara rendah," tutur Ward yang merupakan guru besar di Universitas Sydney itu, Selasa (2/6) waktu setempat. "Kami lantas berpikir, bisa saja musim dingin menjadi 'waktu terbaik' untuk COVID-19."


"Pandemi di Tiongkok, Eropa, dan Amerika Utara terjadi ketika memasuki musim dingin," jelas Ward, seperti dikutip dari Newshub, Rabu (3/6). "Jadi kami mencoba mengamati kaitan antara COVID-19 dengan iklim di Australia, sebab pandemi kemarin terjadi ketika negara kami sedang di akhir musim panas dan awal musim gugur."

Namun Ward juga mengingatkan tak berarti belahan bumi utara, yang akan memasuki musim panas dalam waktu dekat, tak berada dalam risiko tinggi penyebaran wabah COVID-19. Sebab kunci utamanya ada pada kelembaban udara, sedangkan iklim merupakan "faktor sampingan".

Yang kemudian menjadi pertanyaan, mengapa kelembaban sangat berkaitan dengan penyebaran wabah? Disampaikan oleh Ward, rupanya ini berkaitan dengan transmisi atau penularan virus.

"Ketika kelembaban udara rendah, maka udara akan lebih kering dan ukuran aerosol akan mengecil," tutur Ward. Aerosol sendiri merupakan "wujud" virus Corona ketika keluar sebagai droplet dari dalam tubuh seseorang.

"Ketika Anda bersin atau batuk, aerosol-aerosol kecil itu dapat bertahan lebih lama di udara. Tentu ini meningkatkan tingkat paparan terhadap orang lain," pungkas Ward. "Sedangkan apabila udara lebih lembab dan aerosol berukuran lebih besar serta berat, mereka akan lebih mudah jatuh."

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts