Terungkap, Mayoritas Pasien Corona Yang Meninggal Di Surabaya Punya Komorbid
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Terungkap, pasien yang meninggal akibat virus corona (COVID-19) di Surabaya ternyata didominasi memiliki komorbid. Begini penjelasan dari pihak Dinas Kesehatan (Dinkes).

WowKeren - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Surabaya mendata sebanyak 328 pasien yang terkonfirmasi positif virus corona (COVID-19) meninggal dunia. Dari jumlah tersebut, ditemukan jika mayoritas pasien yang meninggal memiliki komorbid atau penyakit penyerta.

Koordinator Bidang Pencegahan Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Surabaya, Febria Rachmanita menjelaskan jika dari 328 orang meninggal, 300 pasien diantaranya memiliki penyakit penyerta. Sedangkan 28 orang lainnya yang meninggal murni karena virus corona.


Komorbid yang diderita pasien COVID-19 pun beragam. Febria menjelaskan penyakit tertinggi yang turut meningkatkan risiko kematian pasien virus corona adalah diabetes melitus (DM), hipertensi, komplikasi, hingga penyakit jantung.

”Penyakit penyerta yang tertinggi itu diabetes mellitus (DM),” kata Feny saat ditemui di rumah Dinas Wali Kota, Jalan Sedap Malam Surabaya pada Selasa (16/06). “Hipertensi, komplikasi DM dan hipertensi, serta penyakit jantung.”

Febri menjelaskan pasien COVID-19 yang meninggal akibat diabetes mellitus tanpa komplikasi ada 57 kasus. Sedangkan pasien virus corona yang meninggal akibat diabetes mellitus dengan komplikasi tercatat ada 62 kasus.

Mayoritas pasien yang meninggal akibat virus corona dengan komorbid ini telah memasuki usia lanjut. Adapun presentase pasien yang meninggal berdasarkan jenis kelamin, yakni laki-laki 52,13 persen dan perempuan 55-64 persen.

”Jadi mereka harus berhati-hati, DM nya harus terkontrol, hipertensinya harus terkontrol,” jelas Febri. “Kalau bisa mereka isolasi di rumah sendiri tidak keluar kalau tidak penting, apalagi yang usianya sudah lansia.”

Pernyataan tersebut juga dibenarkan oleh Dokter Spesialis Penyakit Dalam RSUD dr Soewandhie Surabaya, Mulyadi. Ia mengkonfirmasi jika mayoritas pasien corona yang meninggal disertai dengan penyakit dalam, dimana penyakit T2DM (Type 2 diabetes mellitus) menjadi penyebab tertinggi. Kemudian disusul hipertensi dan jantung.

”Jadi orang COVID-19 banyak meninggalnya karena pneumonia ARDS (acute respiratory distress syndrome),” ujar Mulyadi seperti dilansir dari SuaraSurabaya, Rabu (17/6). “Nah, peningkatan jumlah pneumonia itu berbarengan dengan jumlah komorbid diabetes.”

Mulyani membeberkan data dari rumah sakit tempatnya bekerja, presentase pasien COVID-19 dengan komorbid yang dirawat mecapai 23 persen memiliki T2DM. Lalu sebesar 17 persen memiliki hipertensi dan 8 persen penyakit jantung.

“Jadi orang yang meninggal ataupun yang sakit dengan COVID-19 itu kebanyakan dengan komorbid,” papar Mulyani. “Selain diabetes, ada darah tinggi (hipertensi) dan penyakit jantung.”

”Setiap pasien yang meninggal dengan COVID-19 dengan pneumonia pasti dia juga ada diabetesnya,” sambungnya.” Banyak penyebab kematian adalah pneumonia, tapi kita lihat komorbidnya adalah paling banyak diabetes, jadi berbarengan.”

T2DM ini sendiri biasanya menyerang orang yang berumur 30 tahun ke atas atau lansia. Orang yang memiliki kondisi T2DM ini memiliki imunitas tubuh yang sudah menurun sehingga saat terkena virus corona dapat berdampak fatal.

”Karena orang punya diabetes itu daya tahan tubuhnya tidak sebagus orang normal. Apalagi kalau sudah lansia itu lebih baik stay at home,” sambungnya. “Tidak keluar rumah kalau tidak perlu. Namun jika keluar tetap jaga jarak, menggunakan masker dan cuci tangan.”

(wk/lian)

You can share this post!

Related Posts