Pemprov Jatim Mulai Tata Sistem Rujukan Rumah Sakit Demi Penuhi Target Jokowi
Getty Images
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Pemprov Jatim bersama Gugus Tugas COVID-19 Jawa Timur tengah melakukan penataan sistem rujukan rumah sakit untuk pasien corona. Hal ini dilakukan demi memenuhi target Presiden Jokowi.

WowKeren - Presiden Joko Widodo memberi target agar Jawa Timur bisa menurunkan pertambahan kasus corona (COVID-19) dalam waktu dua minggu. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim pun menyusun sejumlah skenario untuk memenuhi target tersebut. Salah satunya adalah menata sistem rujukan rumah sakit di Jatim.

Koordinator Kuratif Gugus Tugas COVID-19 Jawa Timur, dokter Joni Wahyuhadi menyebutkan jika Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa menugaskan dirinya untuk menerjemahkan skenario yang ada. “Kami ditugaskan gubernur, bagaimana memikirkan tugas yang diberikan dari Pak Presiden," ujarnya. "Ada beberapa skenario yang Bu Gubernur buat, saya bertugas menterjemahkan skenario itu."


Adapun skenario pertama adalah skenario penataan lapangan. Pemprov Jatim akan mengatur agar Rumah Sakit Darurat di Jalan Indrapura bisa memuat lebih banyak pasien.

“Kami akan meningkatkan kapasitas Rumah Sakit Darurat dan memperluas pelayanannya, baik pelayanan ibu melahirkan (dengan COVID-19), pelayanan pasien sedang dan berat," paparnya. "RS Lapangan kami arahkan ke sana."

Selain itu, Pemprov juga akan mengatur agar semua rumah sakit di Jatim siap menjadi rumah sakit darurat untuk merawat pasien COVID-19, terutama untuk gejala ringan dan sedang. “Begitu (gejalanya menjadi) berat, kirim ke rumah sakit yang memang kami tunjuk. Sehingga kecepatan penanganannya bisa lebih komprehensif,” kata Joni ketika ditemui setelah rapat dengar pendapat di DPRD Jatim, Senin (29/6).

Untuk memenuhi kecepatan itulah Pemprov Jatim mengatur sistem rujukan rumah sakit yang komprehensif demi mengatasi kelebihan kapasitas rumah sakit, seperti yang terjadi di Sidoarjo saat ini. “Kami akan satukan rumah sakit-rumah sakit itu melalui apa yang disebut sebagai hospital disaster plan. Kami satukan perencanaannya, kami satukan sistem rujukannya,” paparnya.

Rumah Sakit Darurat di Indrapura yang akan menjadi koordinator rujukan rumah sakit di Jatim. Seluruh rumah sakit harus memasukkan data yang ada ke dalam sebuah aplikasi yang sudah ada.

“Berapa yang dirawat? Kriteria pasien bagaimana? Berapa bed-nya?" tutur Joni. "Bagaimana alatnya? Nanti tinggal melihat di aplikasi. Kami sudah punya (aplikasinya), nanti ditata di situ."

Selain itu, satu skenario lain yang telah disiapkan adalah mempersiapkan Rumah Sakit Khusus Infeksi (RSKI) Universitas Airlangga Surabaya sebagai pusat rujukan layanan kehamilan dengan COVID-19. “RSKI sudah kami sepakati untuk menjadi pusat rujukan layanan maternal (kehamilan) dengan COVID-19. Sebelumnya ke RS Dr Soetomo semua. Sampai kami kehabisan tempat,” ujarnya.

Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) sebagai organisasi profesi dokter kandungan, menurut Joni, sudah menyampaikan kepada korpsnya agar sementara ini tidak merujuk pasien melahirkan dengan COVID-19 ke RSUD Dr Soetomo. “Kawan-kawan kandungan (di RSUD dr Soetomo) sekarang menyelesaikan yang ada dulu. POGI juga sudah menyampaikan kepada korps mereka, sementara ini RSKI sedang disiapkan,” katanya.

Joni juga menambahkan akan menambahkan rumah sakit rujukan di Surabaya Barat. “Saya usulkan BDH (Bakti Dharma Husada), punya Pemkot Surabaya,” katanya. “Di tengah sudah ada RS Dr Soetomo dan RSUA yang ditujukan menangani pasien sedang dan berat. BDH juga nanti menangani ringan, sedang, dan berat. Utara juga ringan sedang berat."

(wk/nidy)

You can share this post!

Related Posts