Sri Mulyani Jelaskan Beda Krisis Ekonomi 1998 Dan 2008 Dengan Pandemi Corona 2020
Instagram
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani menjelaskan perbedaan krisis ekonomi yang menghantam Indonesia pada tahun 1998 dan 2008 dengan pandemi corona 2020.

WowKeren - Pandemi virus corona (COVID-19) saat ini telah menghantam perekonomian dunia dan menciptakan situasi krisis di Indonesia. Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani lantas menjelaskan perbedaan krisis ekonomi yang melanda Tanah Air pada 1998 dan 2008 dengan krisis ekonomi pandemi 2020 ini.

Sri Mulyani menjelaskan jika krisis ekonomi 1998 yang menghantam Indonesia disebabkan oleh permasalahan keuangan di Asia. Lalu krisis ekonomi pada 2008 terjadi lantaran masalah keuangan global yang berawal dari Amerika Serikat (AS).


Kini, krisis ekonomi yang kembali melanda Tanah Air di tahun 2020 disebabkan oleh pandemi virus corona. Penyebaran virus yang begitu tinggi dan cepat telah membuat keselamatan umat manusia terancam. Imbasnya, banyak aktivitas ekonomi menjadi terhenti dan tersendat.

Sri Mulyani mengatakan jika krisis ekonomi 2020 ini paling menantang. Pasalnya, pemerintah tidak hanya harus melindungi warganya namun juga perekonomian masyarakat secara bersamaan.

Dampak krisis ekonomi yang terjadi di setiap tahun tersebut pun terasa berbeda. Sri Mulyani menjelaskan jika krisis 1998 dan 2008 membuat fokus utama hanya berusaha bangkit dalam sektor ekonomi. Namun pada 2020 ini, fokus tidak hanya pada aktivitas ekonomi melainkan juga kesehatan rakyat.

Akibatnya, Pemerintah Indonesia terpaksa kebijakan-kebijakan yang berdampak negatif bagi perekonomian demi menyelamatkan nyawa masyarakat. Salah satunya adalah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang telah menekan ekonomi Indonesia.

“Krisis kali ini berbeda sekali karena kita harus melindungi manusia dan perekonomiannya sekaligus,” jelas Sri Mulyani dalam keterangan tertulis seperti dilansir dari CNNIndonesia, Selasa (30/6). “Satu hal yang berbeda pada krisis kali ini adalah pembatasan sosial.”

”Itu salah satu shock (kejutan) besar karena tidak pernah terjadi sebelumnya,” sambungnya. “Jadi kita harus memikirkan dua sampai tiga langkah ke depan.”

Selain itu, Sri Mulyani menjelaskan dampak krisis ekonomi akibat pandemi ini benar-benar berimbas pada semua kalangan masyarakat. Mulai dari pengusaha, pekerja, hingga rumah tangga.

Sri Mulyani mengatakan pemerintah tengah berusaha memutar otak untuk memenuhi kebutuhan anggaran agar bisa menjalankan berbagai kebijakan penanganan dampak pandemi corona. Imbas kebijakan tersebut, Indonesia akan mengalami defisit anggaran yang melebar sampai ke kisaran 6,07 persen di 2020.

(wk/lian)

You can share this post!

Related Posts