Dahlan Iskan Bongkar Makna Dibalik ‘Drama’ Risma Sujud Di Depan Dokter
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Mantan Menteri BUMN Dahlah Iskan membongkar makna dibalik aksi Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini yang bersujud hingga meminta maaf dihadapan dokter tekait pandemi corona.

WowKeren - Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini sempat menjadi trending topic setelah menjadi sujud dan menangis di hadapan Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan ikut mengomentari aksi Risma tersebut.

Dahlan melalui blog pribadinya www.disway.id, menganalisa apa yang membuat Risma sampai bersujud di depan para dokter. Menurutnya, hal ini disebabkan oleh tingginya kasus virus corona di Surabaya yang telah membuat rumah sakit kewalahan dalam menangani pasien COVID-19.


”Anda sudah tahu Bu Risma (Tri Rismaharini) sampai sujud-sujud. Di depan para dokter. Senin kemarin,” kata Dahlan seperti dikutip dari Disway, Rabu (1/7). “Hasilnya nyata, diketahuilah kenapa rumah-rumah sakit di Surabaya terlalu penuh penderita COVID-19.”

”Setelah adegan heboh itu jalan keluar pun ditemukan. Penyebab utama lubernya rumah sakit itu bisa diketahui,” sambungnya. “Jumlah penderita COVID-19 masih naik. Tapi ada penyebab lain yaitu pasien COVID-19 terlalu lama berada di rumah sakit.”

Dahlan menjelaskan jika masalah rumah sakit overload juga disebabkan karena banyaknya pasien virus corona yang sudah sembuh, namun tidak diizinkan pulang. Prosedur yang merupakan peraturan dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tersebut tentunya cukup menambah masalah menjadi pelik.

Menurut Dahlan, aturan tersebut tidak boleh untuk dilanggar karena dapat berakibat fatal. Pasalnya jika pasien nekat pulang sebelum melakukan swab test kedua, maka BPJS Kesehatan tidak akan menanggung biaya pengobatan sang pasien yang begitu mahal.

”Karena yang sudah negatif tidak boleh pulang. Harus menunggu hasil tes swab yang kedua. Padahal jarak tes pertama dan kedua itu bisa lima sampai enam hari,” jelas Dahlan. “Prosedur yang seperti itu sesuai dengan peraturan yang tidak bisa dilanggar. Itulah peraturan Kementerian Kesehatan. Kalau dilanggar akibatnya bisa fatal, yakni biaya perawatan tidak ditanggung BPJS.

Dahlan mengatakan jika prosedur tersebut memang mendapatkan protes dari Risma yang meminta pasien sembuh virus corona harus segera dipulangkan tanpa menunggu swab tes kedua. Bukannya terus memprotes, Dahlan memuji sosok Risma yang telah menunjukkan ketegasannya sebagai pemimpin.

Risma dengan berani menyatakan jika Pemerintah Daerah (Pemda) Surabaya akan menanggung biaya pasien tersebut. Tentunya solusi tersebut sangat melegakan. Apalagi, Dahlan menyebutkan jika rapat tersebut sangat menegangkan dan intens.

”Wali kota Surabaya pun ternyata bisa menerima masukan itu. Setelah tenang Bu Risma pun mengambil keputusan: pasien negatif harus cepat dipulangkan. Biar pun itu baru hasil tes swab pertama,” cerita Dahlan. “Bagaimana kalau BPJS tidak mau mengganti biayanya? Di sinilah hebatnya Bu Risma yang menyatakan Pemda Surabaya akan mengganti. Peserta rapat pun lega. Ada jalan keluar. Rapat bisa selesai dengan baik.”

Tak disangka, Risma tiba-tiba ndelosor di aspal sehingga membuat seluruh peserta rapat kaget, termasuk moderator rapat yang merupakan Ketua IDI Surabaya dr. Brahmana. Mereka lantas memapah Risma agar bangkit dari ndelosornya.

Dahlan pun menyatakan rasa kagumnya dengan sosok Risma yang benar-benar berjuang keras untuk menangani pasien virus corona. Ia membeberkan jika Risma sejak tiga bulan belakangan ini selalu berkantor di dalam halaman kantor Wali Kota, tepatnya di bawah tenda.

Dari situ, Risma kerap mengadakan rapat-rapat kepada sejumlah jajarannya untuk membahas penanganan virus corona di Kota Pahlawan. Dahlan lantas secara jujur mengatakan jika ia telah salah dalam menyimpulkan berita terbesar minggu ini.

”Yang mengadakan rapat itu Wali Kota Surabaya sendiri. Yang diundang adalah IDI (Ikatan Dokter Indonesia) Surabaya, pimpinan rumah-rumah sakit, relawan COVID-19, dan gugus tugas wabah itu, ungkap Dahlan. “Rapatnya diadakan di halaman depan kantor wali kota. Di seberang kantor Harian DI’s Way.”

”Bu Risma, sejak tiga bulan lalu, memang berkantor di halaman. Di bawah tenda. Lantainya aspal,” sambungnya. “Di halaman itulah meja kerjanyi dipindah. Di halaman itu pula rapat-rapat dengan wali kota dilangsungkan.”

Sebelumnya, Dahlan sempat menuliskan mengenai kemarahan Presiden Jokowi di blog resminya sebagai berita terbesar. Namun, aksi Risma yang bersujud dihadapan dokter dan berjuang menangani virus corona di Indonesia dinilai sebagai berita yang lebih besar dari Jokowi.

”Saya pun harus meralat tulisan DI’s Way kemarin. Yang menyimpulkan bahwa berita terbesar minggu ini adalah marah besarnya Presiden Jokowi,” aku Dahlan. “Ternyata di kampung saya sendiri ada berita yang lebih besar lagi. Gajah di pelupuk memang bisa membuat mata tertutup.”

(wk/lian)

You can share this post!

Related Posts