Vaksin RI Dikebut, Untuk Hadapi Mutasi Virus Corona?
Nasional
Vaksin COVID-19

Wakil Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman menegaskan jika vaksin COVID-19 buatan dalam negeri penting agar lebih mudah bagi Indonesia untuk menciptakan vaksin baru untuk menghadapi mutasi virus corona.

WowKeren - Sejumlah negara saat ini tengah berlomba-lomba untuk menyelesaikan vaksin virus corona (COVID-19). Salah satu negara tersebut adalah Indonesia.

Wakil Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Herawati Sudoyo mengatakan vaksin COVID-19 buatan dalam negeri penting agar lebih mudah bagi Indonesia untuk menciptakan vaksin baru untuk menghadapi mutasi virus corona. Pasalnya, virus corona hingga saat ini masih menyimpan banyak misteri.


Selain itu, apabila vaksin dari luar negeri ternyata tidak ampuh menangkal COVID-19, ia mengatakan akan mudah bagi Indonesia untuk memproduksi ulang vaksin buatan dalam negeri. "Ini virus kan masih kita tidak ketahui, kalau seandainya dia mutasi 3 atau lima tahun lagi, kalau kita tahu bagaimana mekanisme mutasi, atau kalau kita tahu vaksin tidak efektif, kita bisa memproduksi kembali, karena semua teknologi sudah ada di tangan," ujar Herawati dalam Webinar, Jumat (24/7).

Lebih lanjut, Herawati mengatakan pentingnya vaksin buatan lokal adalah untuk memenuhi kebutuhan vaksin di Indonesia. Pernyataannya tersebut untuk menanggapi banyaknya vaksin yang sudah masuk uji klinis.

Di Indonesia sendiri saat ini telah melakukan uji coba pada vaksin COVID-19 Sinovac yang merupakan buatan perusahaan Tiongkok. "Lalu apakah Indonesia perlu tidak mengembangkan vaksin sendiri karena sudah ada 160 lebih sedang mengembangkan dan 24 sudah masuk evaluasi klinis. Menurut saya Indonesia tetap harus memiliki sendiri karena untuk memenuhi keperluan masyarakat kita," katanya.

Untuk menyempurnakan dan memproduksi massal vaksin tersebut, dibutuhkan waktu yang cukup lama. Hal inilah yang menjadi kekhawatiran Herawati.

"Pertanyaan saya sekarang berapa banyak (vaksin) yang akan kita dapatkan," ujarnya. "Misalnya harus menunggu, kita harus tunggu sampai berapa lama agar kita dapat produksi terbesar. jadi dibutuhkan diplomasi baik antar negara agar kita bisa merasakan banyaknya vaksin yang bisa kita produksi dan inginkan."

Sebelumnya, Direktur Biologi Molekuler Eijkman, Amin Subandrio meminta Presiden Joko Widodo agar Indonesia bisa mandiri membuat vaksin COVID-19. "Kenapa kita harus punya kedaulatan vaksin? Karena jumlah penduduk kita 260 juta orang, dan untuk mendapatkan perlindungan yang memadai, kita harus memastikan 70 persen dari penduduk Indonesia punya kekebalan terhadap virus corona, artinya kita butuh 170 juta vaksin," jelasnya dalam seminar PPRA LX Lemhamnas, Selasa (21/7) lalu.

(wk/nidy)

You can share this post!

Related Posts