Buntut Ulah Trump, Para Musisi Papan Atas AS Tolak Penggunaan Lagu Mereka untuk Kampanye
Getty Images
SerbaSerbi

Di bawah naungan lembaga advokasi non-profit yang berbasis di AS, Artists Rights Alliance (ARA), para musisi ini melayangkan surat terbuka kepada Partai Demokrat, Partai Republik, Kongres, dan Senat.

WowKeren - Sederet musisi papan atas menandatangani surat terbuka untuk menyatakan penolakan atas penggunaan lagu karya mereka di kampanye politik Amerika Serikat. Penolakan ini disampaikan setelah Presiden AS, Donald Trump, kerap kali menggunakan lagu-lagu populer dalam kampanyenya tanpa izin pada musisi yang bersangkutan.

Para musisi menyatukan kekuatan di bawah naungan lembaga advokasi non-profit yang berbasis di AS, Artists Rights Alliance (ARA). Melalui situs resmi mereka, ARA melayangkan surat terbuka kepada Partai Demokrat, Partai Republik, Kongres, dan Senat.

Dalam surat itu, para musisi menuntut para politikus untuk meminta izin terlebih dulu jika ingin menggunakan musik mereka dalam kampanye. Para musisi juga memegang hak penuh untuk menolak atau menerima permintaan izin tersebut.

"Kami menuntut semua komite partai politik untuk menentukan kebijakan yang jelas bagi kampanye-kampanye agar meminta izin kepada seniman rekaman, penulis lagu, dan pemegang hak cipta sebelum secara publik menggunakan musik mereka di kampanye politik," tulis mereka dalam surat tersebut.


ARA menulis surat terbuka ini setelah sejumlah musisi, termasuk The Rolling Stones melontarkan protes keras terhadap kampanye Presiden Donald Trump. The Rolling Stones bahkan mengancam bakal menggugat Trump jika masih terus menggunakan lagu mereka dalam kampanye.

"Para seniman ini menghabiskan waktu seumur hidup untuk membuat musik yang kita semua tahu dan cintai. Setidaknya, berikan hak mereka. Dengan begitu banyak pencipta yang menyatakan protes mengenai hal ini, sekarang adalah saat tepat untuk mengambil tindakan agar suara mereka terdengar," tulis ARA.

Pada Juni lalu, tim hukum The Rolling Stone bekerja sama dengan organisasi hak cipta terbesar, BMI, untuk mencegah Trump menggunakan musik mereka dalam acara politik. BMI lantas memperingatkan Trump bahwa penggunaan musik The Rolling Stones tanpa izin merupakan pelanggaran kesepakatan hak cipta.

Peringatan ini dirilis setelah Trump memainkan sejumlah lagu The Rolling Stones, seperti "You Can't Always Get What You Want" dan "Start Me Up", dalam kampanye pemilu presiden pada 2016 lalu. The Rolling Stones lantas mengirimkan permintaan resmi agar Trump berhenti menggunakan lagu mereka, layaknya tuntutan yang juga diajukan Adele, Neil Young, dan Steven Tyler. Namun, Trump tetap menggunakan musik para musisi tersebut.

Kini, para musisi tersebut menyatukan kekuatan untuk melontarkan protes keras di bawah naungan ARA. Selain musisi yang disebutkan di atas, nama sejumlah artis lain juga tertera di surat tersebut, seperti Elton John, Mick Jagger, Elvis Costello, Lorde, Linkin Park, Lykke Li, hingga REM.

(wk/luth)

You can share this post!

Related Posts