'Mimpi Buruk' Ekonomi RI Kuartal III 2020: Minus Lagi Atau Cuma Tumbuh 0,5 Persen
Nasional
Potensi Resesi Imbas COVID-19

Menkeu Sri Mulyani blak-blakan soal potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia kembali bernilai negatif pada Kuartal III 2020. Padahal Indonesia sudah mengalami minus 5,32 persen di Kuartal II 2020.

WowKeren - Laporan keuangan kuartalan yang disampaikan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada Rabu (5/8) kemarin menjadi pukulan tersendiri. Pasalnya ekonomi Indonesia pada Kuartal II 2020 anjlok hingga 5,32 persen, yang ternyata berpotensi untuk kembali terjadi di Kuartal III 2020 dan membawa Tanah Air ke resesi pertama sejak 1998.

Hal ini disampaikan secara blak-blakan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam konferensi pers virtualnya. Sri Mulyani memprediksi ekonomi Kuartal III akan kembali anjlok karena berbagai sektor usaha tampaknya belum bisa pulih dalam waktu dekat.

"Probabilitas (pertumbuhan ekonomi) negatif masih ada," ujar Sri Mulyani, Rabu (5/8). "Karena penurunan sektor tidak bisa secara cepat pulih."

Tentu saja pemerintah akan berusaha mencegah krisis ini terjadi pada bulan Juli hingga September 2020 mendatang. Oleh karenanya berbagai stimulus disiapkan, mulai dari pembebasan biaya listrik sampai pemberian tunjangan bagi yang bergaji di bawah Rp 5 juta.


Dengan semua langkah itu, pemerintah berharap pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Kuartal III 2020 dan Kuartal IV 2020 dapat berada di level positif. Namun ternyata pemerintah juga tidak memasang target yang tinggi untuk pemulihan pertumbuhan ekonomi ini, yakni maksimal 0,5 persen.

"Untuk Kuartal III, kita berharap growth minimal 0 persen dan positif 0,5 persen," ujar Sri Mulyani, seperti dilansir dari Kompas, Kamis (6/8). "Kalau terjadi keseluruhan, pertumbuhan ekonomi 2020 diharapkan akan tetap terjaga pada zona positif, minimal 0 persen hingga satu persen."

Sebagai informasi, BPS mengonfirmasi ada kontraksi ekonomi sampai level minus 5,32 persen pada Kuartal II 2020. "Perekonomian Indonesia pada Triwulan II 2020 year on year (yoy) dibandingkan Triwulan II 2019 mengalami kontraksi 5,32 persen," ujar Kepala BPS, Suhariyanto, dalam konferensi pers virtual, Rabu (5/8).

Kontraksi ini, imbuh Suhariyanto, jauh lebih dalam ketimbang yang diprediksi pemerintah sebelumnya, yakni kisaran 4,3 sampai 4,8 persen. Nilai kontraksinya juga merupakan yang terburuk sejak Kuartal I 1999, alias beberapa saat sesudah Indonesia diguncang krisis moneter besar dan dihadapkan pada pergolakan dunia politik.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts