Trump Bersikeras Sebut Ledakan di Beirut adalah Serangan
Getty Images/Erin Schaff Pool
Dunia

Sebelumnya, usai ledakan terjadi di Beirut, Trump langsung mengklaim mendapat laporan dari sejumlah perwira tinggi militer bahwa ada dugaan kejadian itu adalah serangan.

WowKeren - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, masih berkeras menyebut bahwa insiden ledakan di Beirut, Lebanon, adalah serangan yang dilakukan pihak-pihak tertentu.

"Sebagian mengatakan itu adalah serangan, lainnya mengatakan bukan. Apapun yang terjadi, hal itu sangat buruk dan banyak orang tewas dan yang luka-luka juga juga cukup banyak, dan kami akan terus mendukung mereka," kata Trump dalam jumpa pers di Gedung Putih, seperti dilansir dari CNN.

Sebelumnya, usai ledakan terjadi di Beirut, Trump langsung mengklaim mendapat laporan dari sejumlah perwira tinggi militer bahwa ada dugaan kejadian itu adalah serangan. Namun, Menteri Pertahanan Mark Esper, membantah pernyataan Trump dan menyatakan kejadian itu adalah kecelakaan.

Kendati demikian, Presiden berusia 74 tahun tersebut terus mengatakan ada dugaan bahwa insiden itu memang disengaja. "Bagaimana Anda bisa mengatakan ada seseorang yang tidak sengaja meninggalkan alat pemicu (ledakan) di sana, dan mungkin itu yang terjadi. Mungkin itu memang serangan," ujar Trump.

"Saya pikir belum ada yang bisa mengatakannya saat ini. Kita akan melihat hal itu dengan seksama. Walau itu bukan sebuah bom yang sudah diatur, hal itu tetap berakhir seperti bom. Saya mendapatkan dari dua sisi. Kejadian itu bisa berupa serangan dan juga bisa merupakan sebuah tindakan yang mematikan," lanjut Trump.


Pernyataan Trump ini didukung oleh Kepala Staf Gedung Putih, Mark Meadows, membela Trump dan mengatakan dia juga mendapat informasi itu dari kalangan militer. "Presiden membagi apa yang dia dapat dalam taklimat kepada warga AS secara utuh, saya bisa menjamin itu," ujar Meadows.

Sebagai informasi tambahan, Presiden Lebanon, Michel Aoun, menetapkan status darurat untuk melancarkan proses evakuasi pasca insiden ledakan ini. Presiden Michael Aoun mengatakan ledakan itu berasal dari sebuah gudang dekat pelabuhan Beirut yang menyimpan 2.750 ton amonium nitrat.

Ribuan ton amonium nitrat itu disebut tersimpan secara tidak aman selama kurang lebih enam tahun. Dalam pernyataan resminya, Aoun pun bersumpah akan menjatuhkan "sanksi terberat" terhadap pihak yang bertanggung jawab atas insiden ini. Ia juga menetapkan status darurat nasional selama dua pekan terkait insiden di Beirut.

Sedangkan Gubernur Beirut, Marwan Abboud, menyatakan bahwa jumlah kerugian akibat ledakan dahsyat itu ditaksir mencapai Rp217.5 triliun. Abboud mengatakan sebanyak 300 ribu penduduk Beirut kehilangan tempat tinggal karena rusak terkena dampak ledakan.

Di sisi lain, ledakan besar yang terjadi di kawasan pelabuhan Beirut itu menewaskan setidaknya 135 orang dan melukai ribuan warga yang berada di sekitar lokasi kejadian. Ledakan ini juga mengakibatkan gempa lokal dengan magnitudo 3,5. Sampai saat ini kepolisian setempat telah menetapkan sejumlah pejabat di badan pelabuhan Beirut sebagai tahanan rumah, terkait proses penyelidikan.

(wk/luth)

You can share this post!

Related Posts