Rivalitas AS-Tiongkok Bikin LCS Panas, Menlu Tegaskan ASEAN Tak Boleh Terjebak
Dunia

Alih-alih terjebak dalam rivalitas yang berpotensi mengganggu stabilitas regional, Menlu menegaskan negara-negara ASEAN untuk saling memperkuat kerja sama

WowKeren - Rivalitas antara Amerika Serikat dan Tiongkok di Laut Cina Selatan masih berlangsung. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Teuku Faizasyah menegaskan jika baik Indonesia maupun ASEAN tidak akan terjebak dalam rivalitas yang berlangsung.

"Saya ingin tegaskan kembali bahwa Ibu Menlu, dalam konteks merayakan ulang tahun ASEAN," tutur Faizasyah dalam jumpa pers virtual, Kamis (13/8). "Mendorong dikeluarkannya ASEAN Foreign Ministers Statement on the Importance of Maintaining Peace and Stability in Southeast Asia."

Stabilitas di kawasan Asia Tenggara sangat penting untuk Indonesia, termasuk yang ada di sekitar Laut Cina Selatan. Begitu pula bagi negara-negara lainnya di ASEAN. Oleh sebab itu, perlu adanya upaya untuk menjaga stabilitas kawasan yang berdasar pada dokumen ASEAN sebagai kawasan damai, bebas, dan netral.

Alih-alih terjebak dalam rivalitas yang berpotensi mengganggu stabilitas regional, Menlu menegaskan negara-negara ASEAN untuk saling memperkuat kerja sama. "ASEAN tidak perlu dan tidak boleh terjebak dalam rivalitas negara-negara besar di kawasan. Sebaliknya, kerja sama dan kolaborasi harus diperkuat," ujar Retno.


Ia mengimbau agar negara-negara di ASEAN terus menjaga persatuan guna menjadi kawasan yang damai, aman, netral dan stabil. "Persatuan di antara negara ASEAN akan menjadi kunci kesuksesan ASEAN," pungkasnya.

Beberapa waktu lalu, Kepala Badan Keamanan Laut (Bakamla) Laksamana Madya TNI Aan Kurnia menyebut adanya potensi kemungkinan terjadi perang jika ketegangan di kawasan tersebut tak kunjung mereda. Indonesia sebagai negara yang berbatasan dengan wilayah itu bisa menerima dampak buruk. Sebab, wilayah tersebut berdekatan dengan Natuna yang merupakan wilayah Indonesia.

"Apabila perang pecah di Laut China Selatan maka Indonesia berpotensi mengalami dampak langsung," kata Aan dalam acara webinar, Jumat (26/6). Wilayah Natuna, dikatakannya bisa saja hancur akibat salah sasaran.

Sehingga jika hal ini terjadi, maka kegiatan eksploitasi dan eksplorasi yang sedang dilakukan di Natuna dan perairan Natuna akan terhenti lantaran wilayah Natuna berpotensi terlokalisir.

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts