Pakar Biomolekuler Unair, Ni Nyoman Tri Puspaningsih, mengungkap bahwa virus Corona dengan mutasi D614G yang menular 10 kali lebih cepat ternyata sudah ada di Indonesia sejak April 2020.
- Elvariza Opita
- Senin, 31 Agustus 2020 - 15:52 WIB
WowKeren - Beberapa waktu lalu peneliti dari Universitas Airlangga menyebutkan bahwa virus Corona yang bermutasi menjadi 10 kali lipat lebih menular, D614G, sudah ditemukan di Indonesia. Dan kekinian fakta baru kembali terungkap, yakni mutasi virus itu ternyata sudah "berkeliaran" di Indonesia sejak April 2020 kemarin.
Pakar Biomolekuler Universitas Airlangga, Ni Nyoman Tri Puspaningsih mengungkap mutasi D614G ini ditemukan sekitar sebulan setelah kasus COVID-19 perdana dikonfirmasi. "Kami di Universitas Airlangga sudah menemukan adanya mutasi D614G yang sekarang sedang ramai itu, collecting data kami di bulan April," terang Puspaningsih, dikutip dari program Blak-Blakan 20Detik, Senin (31/8).
Puspaningsih mengaku ia dan tim sudah mengumpulkan sampai 30 ribu data dari pasien di Surabaya pada 4 April 2020. Kala itu ia dan tim kemudian melakukan sekuens genom utuh atau Whole Genome Sequencing (WGS) untuk selanjutnya dikirim ke GISAID (Global Initiative on Sharing All Influenza Data).
"Artinya sebetulnya sebulan setelah Indonesia terkonfirmasi positif COVID-19 itu, sudah ada mutasi di Indonesia," jelas Puspaningsih. "Mungkin lebih dulu daripada informasi yang dari Malaysia."
Terkait dengan fakta ini, Puspaningsih mengaku sudah memeringatkan kepada rekan sesama peneliti. Sebab mutasinya ditemukan pada bagian spike alias protein virus yang nantinya akan masuk dan menempel pada reseptor sel manusia.
"Jadi kalau dia ada mutasi kemungkinannya ada dua, dia lebih mudah menempel dan masuk menginfeksi atau justru sebaliknya," tutur Puspaningsih. "Ternyata ramai bahwa ini menyebabkan penyebaran sepuluh kali lebih cepat."
Bahkan Puspaningsih sendiri menduga lonjakan besar-besaran kasus positif COVID-19 di Surabaya adalah akibat mutasi D614G ini. Sebagai pengingat, sekitar bulan Mei-Juli 2020 kemarin Surabaya memang menjadi pusat penyebaran virus Corona di Indonesia dengan lonjakan sangat tinggi wabah virus Corona.
Apalagi kala itu, menurut Puspaningsih, baru sampel WGS dari pasien COVID-19 Surabaya lah yang dikirim ke GISAID. "Namun kesulitan kami untuk membuktikan itu adalah data kami sangat-sangat sedikit sampai sekarang di Indonesia," tuturnya.
Kendati demikian Puspaningsih tak ingin mengambil kesimpulan bahwa mutasi D614G lah yang bertanggung jawab atas penyebaran wabah besar-besaran ini. "Jadi kita harus mengumpulkan data sebanyak-banyaknya dulu baru bisa membuktikan hal tersebut," ujar Puspaningsih.
(wk/elva)