Pandemi Corona di RI 'Telan' 100 Nyawa Dokter, Ternyata Ini Ancaman yang Menanti
Nasional
COVID-19 di Indonesia

IDI mencatat ada 100 dokter yang sudah meninggal akibat COVID-19 sampai Minggu (30/8) kemarin. Tak hanya dari segi kemanusiaan, kepergian ratusan dokter ini ternyata membawa sejumlah ancaman.

WowKeren - Pandemi COVID-19 dilaporkan sudah menyebabkan 100 orang dokter meregang nyawa. Jelas bukan angka yang sedikit dan ternyata menyimpan sejumlah besar ancaman. Apa sajakah?

Dilansir dari Asia Sentinel edisi tahun 2017, Indonesia memiliki 2.488 rumah sakit dengan sekitar 1,21 ranjang per 1.000 populasi. Rasio dokter dan dokter gigi per 100 ribu populasi sendiri adalah 16,06 dan 4,57.

Bila dikonversikan dengan standar Organisasi Kesehatan Dunia, maka perbandingannya adalah 0,09:600, atau dapat diartikan per 1 dokter bertanggung jawab atas 6.600 penduduk. Sehingga secara statistik, kematian 100 dokter berarti Indonesia sudah kehilangan kemampuan pelayanan kesehatan untuk 660 ribu penduduk, demikian dilansir dari penjelasan di akun Instagram @overheardppds.

Padahal kondisi pandemi saat ini membutuhkan peran besar tenaga medis. "Beban ini (kematian sampai 100 dokter karena COVID-19) menambah bekerja tidak nyaman dan memengaruhi pelayanan," ungkap Sekretaris Tim Audit dan Advokasi Kematian Dokter PB IDI, Dr dr Mahlil Ruby, dikutip dari Kompas pada Selasa (1/9).

Tak hanya memengaruhi mental para tenaga medis, keluarga dan kerabat mereka yang ikut khawatir pun akan mengalami kecemasan serupa. Mereka pun akan waswas melepas sanak saudara bekerja sebagai tenaga kesehatan, yang bisa saja berujung dengan mundurnya sejumlah nakes.


Selain itu, kematian 100 dokter ini berpengaruh juga terhadap dunia pendidikan kesehatan Indonesia. Mereka yang pergi adalah pengajar yang bisa meneruskan ilmunya, tak hanya kepada sesama dokter tetapi juga kepada tenaga kesehatan lain hingga mengedukasi masyarakat.

Ruby dari IDI sendiri menyatakan beberapa dokter yang meninggal dikenal memiliki kompetensi luar biasa sebagai spesialis di bidangnya. Sehingga kepergian mereka juga merugikan putra-putri terbaik yang telah dididik belasan tahun untuk melayani masyarakat dengan sebaik-baiknya.

"Investasi pendidikan dokter cukup mahal. Apalagi banyak dokter yang gugur sebagai super spesialis atau konsultan spesialis," jelas Ruby. "Mendidik seorang dokter sampai menjadi super spesialis butuh waktu 12-15 tahun. Sehingga negara sesungguhnya rugi karena kehilangan tenaga-tenaga profesional untuk melayani rakyat."

"Gugurnya rekan dan guru-guru kami tak hanya meninggalkan getir," pungkas @overheardppds dalam menyikapi gugurnya ratusan tenaga medis ini. "Tetapi juga kekosongan dan ancaman terputusnya jalur pendidikan tenaga kesehatan Indonesia di masa depan dan selanjutnya."

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts