Disney Buka Suara Usai 'Mulan' Dikecam Terkait Muslim Uighur
Disney
Film

'Mulan' menuai kritik keras karena kedapatan syuting di Provinsi Xinjiang, di mana etnis minoritas Muslim Uighur dilaporkan menjadi korban diskriminasi dan penindasan hak asasi manusia.

WowKeren - Disney akhirnya buka suara setelah film live-action terbaru mereka, "Mulan", dikecam habis-habisan, terutama karena kedapatan syuting di Provinsi Xinjiang, di mana etnis minoritas Muslim Uighur dilaporkan menjadi korban diskriminasi dan penindasan hak asasi manusia.

Kepala urusan Finansial Disney, Christine McCarthy, pun menjelaskan bahwa memang benar syuting "Mulan" dilakukan di 20 titik lokasi di Tiongkok. Namun ia mengklaim bahwa hampir sebagian besar pengambilan gambar dilakukan di Selandia Baru.

"Untuk menggambarkan secara akurat lanskap dan geografi unik Tiongkok untuk drama ini, kami melakukan syuting pemandangan di 20 lokasi berbeda di Tiongkok," ujar McCarthy. "Jadi, dalam kredit film kami, dicantumkan lokasi-lokasi di Tiongkok dan Selandia Baru. Saya hanya akan mengatakan itu, tapi ini saja sudah menimbulkan banyak masalah bagi kami," katanya.

Agar dapat mendapatkan izin syuting di sederet lokasi tersebut, tim produksi harus mendapatkan izin dari pemerintah setempat. Itu pula lah yang menjadi alasan kenapa Disney mencantumkan ucapan terima kasih pada pemerintah Xinjiang di bagian kredit film, di mana hal tersebut justru menimbulkan gelombang kritik besar-besaran. Pasalnya, Xinjiang merupakan lokasi dugaan terjadinya pelanggaran HAM skala besar pada muslim Uighur.


Setidaknya ada delapan entitas pemerintah Xinjiang yang masuk dalam daftar ucapan "Terima Kasih Khusus", salah satunya biro keamanan publik Kota Turpan, lokasi di mana banyak Uighur ditahan dalam kamp-kamp konsentrasi.

Dalam kredit itu, tim produksi juga berterima kasih kepada Departemen Publisitas Komite Daerah Otonomi Uighur Xinjiang yang merupakan Badan Partai Komunis Tiongkok sekaligus penanggung jawab upaya propaganda negara di wilayah tersebut.

Selama bertahun-tahun, Tiongkok memang telah berada dalam pengawasan dunia internasional karena perlakuannya terhadap minoritas muslim di Xinjiang. Diperkirakan lebih dari 1 juta penduduk Uighur ditahan di kamp-kamp di luar putusan pengadilan. Namun Tiongkok mengatakan kamp penahanan di Xinjiang merupakan bagian upaya damai demi meningkatkan keamanan dan pembangunan ekonomi di kawasan tersebut.

Terlepas dari hal ini, "Mulan" memang terus mendapatkan kontroversi sejak sebelum dirilis. Bahkan sejumlah aktivis di berbagai negara dengan lantang menyerukan untuk memboikot film ini akibat ulah sang pemeran utama, Liu Yifei, yang dinilai mendukung kebrutalan polisi Hong Kong pada tahun 2019 lalu.

Di tengah kontroversi ini pula, penjualan tiket "Mulan" pada pekan pertama di Tiongkok melempem. Film live-action tersebut bahkan hanya mendapatkan USD 23 juta atau sekitar Rp344,2 miliar, jauh di bawah yang ditargetkan.

(wk/luth)

You can share this post!

Related Posts