Ini Kata Ahli Soal Tempat Ibadah Tetap Dibuka Kala PSBB Ketat Jakarta
Shutterstock
Nasional
PSBB Corona

Tempat ibadah tetap boleh dibuka selama Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) ketat di DKI Jakarta. Ahli epidemiologi ikut menanggapi keputusan tersebut.

WowKeren - DKI Jakarta telah menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) ketat sejak Senin (14/9) lalu. Meski PSBB yang diterapkan seperti awal pandemi, namun ada sejumlah aturan yang diubah. Salah satunya adalah tetap dibukanya sejumlah sektor, seperti tempat ibadah.

Ahli epidemiologi dari Universitas Griffith, Dicky Budiman lantas memberikan tanggapannya mengenai dibukanya tempat ibadah selama PSBB ketat. Ia mengaku setuju dengan keputusan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta tersebut.

Menurutnya, PSBB kali ini memang tidak perlu dilakukan secara total. Ia meyakini jika cara tersebut sudah cukup untuk menekan laju penyebaran COVID-19. Terlebih, perkantoran hingga industri masih boleh beroperasi sehingga pembukaan tempat ibadah dinilai sebagai bentuk keadilan.

”Melihat bahwa kebijakannya bukan PSBB total dan juga perkantoran 25 persen diperbolehkan bekerja, kemudian industri 50 persen,” jelas Dicky seperti dilansir dari CNNIndonesia, Rabu (16/9). “Saya kira untuk menjaga dari sisi kesetaraan dan keadilan sosial, saya kira masjid tidak ditutup.”


Lebih lanjut Dicky memberikan saran kepada Pemprov DKI Jakarta untuk menutup masjid yang berada di pinggir jalan arteri atau jalan besar. Pasalnya, mobilitas yang tinggi di daerah itu dapat memicu penyebaran virus corona. Sebagai gantinya, ia menyarankan agar masjid yang ada di dalam pemukiman penduduk tetap dibuka.

Masjid di dalam pemukiman penduduk dinilai Dicky lebih aman lantaran jamaahnya berasal dari lokasi yang sama. Sedangkan masjid yang berada di pinggir jalan arteri atau jalan besar karena jemaah bisa berasal dari banyak wilayah.

Dicky juga mengingatkan pengelola tempat ibadah untuk menyiapkan protokol kesehatan pencegahan COVID-19 dan masyarakat ikut mematuhinya. Diantaranya adalah selalu memakai masker, menjaga jarak, dan membersihkan tangan selama berada di tempat ibadah.

Dicky kemudian menyarankan agar tempat ibadah di Indonesia meniru Australia dengan menyiapkan registrasi sebelum beribadah. Cara ini bertujuan untuk mengatur kapasitas tempat ibadah serta untuk menghindari potensi terjadinya klaster COVID-19.

”Di Australia meski tidak ada kasus saya tetap harus daftar online untuk salat dan tetap ada pengaturan kapasitas. Itu akan sangat bagus kalau bisa dilakukan,” jelas Dicky. “Di Indonesia saya kira karena belum ada studinya saja, tapi bahwa potensi itu ada, klaster ibadah ya ada, jelas ada.”

(wk/lian)

You can share this post!

Related Posts