Banyak Masyarakat Abai Protokol COVID-19 Meski Kasus Tinggi, Ini Sederet Penyebabnya
https://www.kemenparekraf.go.id/
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Selama ini masyarakat hanya disodorkan angka dan ucapan terkait perkembangan kasus COVID-19. Hal ini dinilai kurang bisa membuat mereka melihat secara langsung seberapa bahayanya virus ini

WowKeren - Di tengah tingginya kasus COVID-19 di Indonesia, pemerintah terus berupaya mensosialisasikan penerapan protokol kesehatan kepada masyarakat. Sebab belum semua masyarakat sadar dan mau menerapkan protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran COVID-19.

Tak sedikit dari mereka yang abai, terutama protokol untuk memakai masker maupun menjaga jarak. Alhasil ketidakpatuhan masyarakat semakin memperparah kondisi penyebaran COVID-19 di negeri ini.

Pengamat sosial dari Universitas Indonesia Devie Rahmawati menyebut ada sejumlah penyebab masih rendahnya kesadaran masyarakat. Yang pertama adalah tidak adanya pengetahuan tentang COVID-19 itu sendiri.

"Dan kedua, tidak punya pengalaman," kata Devie seperti dilansir dari BBC indonesia, Kamis (17/9). "Berbeda dengan demam berdarah, campak dan malaria yang mana semua orang tahu tentang penyakit itu dan punya pengalaman baik untuk dirinya sendiri, saudara atau koleganya."


Lalu yang ketiga adalah adalah penglihatan. Menurut Devie, selama ini masyarakat hanya disodorkan angka dan ucapan terkait perkembangan kasus COVID-19. Hal ini dinilai kurang bisa membuat mereka melihat secara langsung seberapa bahayanya virus ini.

Kendati ada orang yang pernah mengalami namun itu tidak semua. Sehingga bagi yang belum pernah berada dalam posisi itu relatif sulit untuk berempati.

"Secara umum, COVID-19 tidak ada yang melihat, yang masyarakat tahu hanya angka bertambah," ujar Devie menjelaskan. "Dan jarang sekali orang punya pengalaman langsung melihat dan menceritakannya."

Kondisi ini diperparah dengan masifnya kabar bohong yang bertebaran di media sosial. Tak sedikit pihak yang berupaya menyesatkan masyarakat dengan mengatakan virus corona adalah konspirasi, senjata biologis, ulah kelompok dan ras tertentu.

"Keempat alasan ini berkelindan yang membuat masyarakat, tidak mengenal kalangan baik berpendidikan atau tidak, kaya atau miskin, tidak meyakini virus corona," tegasnya. "Yang akhirnya mereka sembrono, tidak taat protokol kesehatan."

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts