FBI Klaim Rusia Pakai Informasi Palsu untuk Ganggu Kampanye Joe Biden di Pilpres AS
Dunia

Kesaksian FBI ini sesuai dengan apa yang telah diungkapkan direktur NCSC pada 7 Agustus, yang mengatakan Rusia, Tiongkok, dan Iran mencoba mengintervensi pilpres AS November mendatang.

WowKeren - Direktur Badan Investigasi Pusat (FBI), Christopher Wray, memperingatkan bahwa Rusia sedang mengintervensi pemilihan presiden Amerika Serikat (AS). Christopher Wray mengatakan Rusia melancarkan informasi palsu yang mengincar calon Presiden dari Partai Demokrat, Joe Biden.

Wray mengatakan Rusia ingin melemahkan kepercayaan rakyat AS pada proses pemilihan umum yang akan digelar pada November nanti. Kepala FBI tersebut menambahkan Moskow juga ingin melemahkan apa yang mereka lihat sebagai gerakan anti-Rusia di AS.

Chrisopher Wray juga mengatakan kekhawatiran terbesarnya adalah harus informasi palsu yang terus mengalir. Menurutnya hal itu akan menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap hasil pemilu 2020.

Kesaksian Wray ini sesuai dengan apa yang telah diungkapkan direktur Pusat Kontra Intelijen dan Keamanan Nasional (NCSC) pada 7 Agustus lalu. Kala itu, kepala NCSC mengatakan Rusia, Tiongkok, dan Iran mencoba mengintervensi pemilihan 3 November mendatang.


Mengenai isu Tiongkok, Wray mengatakan FBI sangat aktif memantau upaya Tiongkok mengambil teknologi AS dan informasi sensitif lainnya. Lembaga intelijen itu menggelar penyelidikan kontra intelijen terhadap Tiongkok setiap 10 jam sekali.

Wray juga mengatakan FBI menggelar sejumlah penyelidikan terhadap kekerasan yang dilakukan ekstremis domestik selama unjuk rasa memprotes rasialisme dan brutalitas polisi. Ia menambahkan sebagian besar subjek yang diselidiki adalah kelompok supremasi kulit putih.

Sebagai informasi tambahan, sejumlah badan intelijen AS menyimpulkan Rusia aktif mendukung capres Petahana dari Partai Republik, Donald Trump, pada pemilihan tahun 2016 lalu dan melemahkan kepercayaan terhadap Hillary Clinton. Trump yang kini menjadi presiden membantah penemuan badan-badan intelijen tersebut.

Trump sendiri tanpa memberikan bukti yang jelas mempertanyakan pemungutan suara melalui mail in, yaitu sebuah metode yang sudah lama digunakan Amerika Serikat dan mungkin akan semakin banyak dipakai karena pandemi virus corona.

Pada Kamis (17/9), tanpa memberikan bukti yang jelas Trump berkicau di Twitter pemungutan suara dengan surat membuat hasil pemilihan umum yang sebenarnya tidak mungkin diketahui.

(wk/luth)

You can share this post!

Related Posts