Mutasi Genetik Disebut Bisa Ringankan Gejala COVID-19 Tapi Munculkan Risiko Skizofernia
Health
Pandemi Virus Corona

Menurut laporan non-peer- review yang diunggah di bioRxiv.org pada Senin (21/9) tersebut, penemuan ini menambah bukti bahwa 'variasi genetik yang umum dapat memengaruhi infeksi virus'.

WowKeren - Menurut tim peneliti di New York, Amerika Serikat, orang-orang yang mengalami mutasi genetik unik kemungkinan tidak akan mengalami gejala infeksi COVID-19 yang terlalu parah. Namun, mereka justru memiliki risiko skizofrenia yang lebih tinggi.

Melansir South China Morning Post, eksperimen tim peneliti tersebut menunjukkan bahwa gen rs4702 memungkinkan virus corona bereplikasi lebih cepat di tubuh manusia, terutama di otak. Mutasi pada gen tersebut dapat menekan reproduksi virus, namun orang yang membawa mutasi ini cenderung memiliki masalah dengan neuron mereka yang terkait dengan skizofrenia dan gangguan mental lainnya.

Menurut laporan non-peer- review yang diunggah di bioRxiv.org pada Senin (21/9) tersebut, penemuan ini menambah bukti bahwa "variasi genetik yang umum dapat memengaruhi infeksi virus". Adapun tim peneliti ini dipimpin oleh Dr Kristen Brennand dari Fakultas Kedokteran Icahn di Mount Sinai di New York.

Dalam penelitian tersebut, tim Bernnand menginfeksi neuron manusia yang membawa gen rs4702 dengan dosis kecil Sars-CoV-2 (nama resmi virus corona baru). Dalam 24 jam, salinan virus meningkat hampir 150.000 kali.


Setelah itu, mereka menginduksi mutasi gen rs4702 di neuron dengan teknologi pengeditan gen. Jumlah salinan virus lantas turun menjadi sekitar sepertiga.

Di sisi lain, studi sebelumnya menunjukkan bahwa mutasi gen rs4702 dapat menyebabkan penurunan pertumbuhan neuron dan aktivitas yang berubah. Perubahan ini dianggap sebagai faktor risiko umum untuk skizofrenia, gangguan mental serius yang dapat menyebabkan halusinasi, delusi, dan pemikiran atau perilaku ekstrem.

Mutasi ini kemungkinan dapat mengurangi replikasi virus pada pasien secara individu. "Namun, pengendalian pandemi dengan membiarkan virus tingkat rendah untuk sukses menyebar tapi tetap tidak terdeteksi oleh sistem kekebalan mungkin bukan kabar yang bagus," kata Brennand.

Gen rs4702 sendiri mengendalikan produksi furin, enzim yang penting untuk berfungsinya banyak protein dalam tubuh. Tim peneliti mengatakan gen tersebut tidak hanya terjadi di otak, tetapi juga di sel paru-paru dan usus.

Tim peneliti juga yakin virus SARS-CoV-2 telah membajak furin untuk memulai serangkaian mekanisme pengikatan yang pada akhirnya akan mengarah pada fusi selubung virus, atau lapisan terluar, dan membran sel inang. Menurut para peneliti, kemampuan seperti itu yang dimungkinkan oleh penyisipan empat huruf yang unik dalam kode genetik virus, sehingga tidak terlihat pada virus corona lain, seperti SARS (sindrom akut pernapasan parah).

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts