Angka COVID-19 DKI Kembali Menanjak di Kala PSBB Transisi
Nasional
PSBB Corona

Tepat setelah DKI Jakarta memutuskan untuk kembali menerapkan PSBB transisi, tren kasus positif COVID-19 kembali menanjak. Dalam empat hari terakhir, terakumulasi sebanyak 4.331 kasus.

WowKeren - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memutuskan untuk menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) transisi di DKI Jakarta pada 12 Oktober lalu. Keputusan tersebut diambil lantaran angka kasus COVID-19 di ibu kota diklaim menunjukkan perlambatan.

Namun, tepat setelah DKI Jakarta kembali menerapkan PSBB transisi, tren kasus positif kembali menanjak. Tambahan kasus harian pada 12 Oktober sebanyak 1.168 kasus, pada 13 Oktober 1.054, 14 Oktober 1.038, dan 15 Oktober 1.071 kasus.

Dalam empat hari terakhir, terakumulasi sebanyak 4.331 kasus. Rata-rata kasus harian dalam empat terakhir sebanyak 1.082 kasus. Penambahan kasus juga kembali pada angka 1.000 kasus dalam sehari.

Secara akumulatif sejak Maret, kasus COVID-19 di Ibu Kota berjumlah 91.337 kasus. Platform Informasi COVID-19, Pandemic Talks mengatakan, jumlah kasus positif di DKI Jakarta ini telah melebihi akumulasi kasus positif di Tiongkok.


"Diam-diam, total kasus DKI Jakarta lewati Portugal, Jepang, Ethiopia, dan China," kata Pandemic Talks dikutip dari akun Instagram @pandemictalks, Jumat (16/10). Seperti yang diketahui, jumlah kasus positif di Tiongkok sendiri berjumlah 85.622 kasus, Ethiopia 86.430 kasus, Jepang 90.140 kasus, dan Portugal 91.193 kasus.

Sementara itu, Indonesia juga dikabarkan telah menyalip Filipina dan menjadi negara dengan jumlah kasus COVID-19 tertinggi di Asia Tenggara pada Kamis (15/10) kemarin. Dengan pertambahan 4.411 kasus positif COVID-19, Indonesia mencacat total 349.160 kasus.

Sementara Filipina telah melaporkan 348.698 kasus COVID-19. Hal ini lantas menjadi sorotan anggota Komisi IX DPR RI Saleh Daulay. Menurutnya, kasus COVID-19 Indonesia menyalip Filipina karena faktor jumlah penduduk yang lebih besar.

"Saya merasa Indonesia memang tidak sebanding juga dengan Filipina karena jumlah penduduk kita jauh lebih besar dari Filipina. Tapi karena jumlah kita lebih besar maka mestinya memang tes kita juga harusnya lebih banyak, tracing juga harus lebih banyak," terang Saleh dilansir Kumparan pada Kamis (15/10). "Tapi mungkin juga karena memang kita belum sepenuhnya bisa mengantisipasi agar penyebaran virus ini tidak melebar dari satu daerah ke daerah lainnya. Jadi belum bisa menganalisasi penyebaran virus itu."

(wk/nidy)

You can share this post!

Related Posts