Masih Lesu Dihantam Corona, Usaha Ritel Terancam Tutup Toko
pxhere.com
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Jika kondisi ini terjadi, maka itu artinya gelombang PHK juga akan terjadi. Sehingga penutupan toko ritel akan berimbas pada bertambahnya jumlah pengangguran.

WowKeren - Pandemi virus corona telah menghantam sejumlah sektor perekonomian. Salah satunya adalah sektor ritel yang hingga kini masih lesu karena kerugian yang menghantui.

Jika kondisi ini terus berlanjut, maka tak menutup kemungkinan industri ritel akan terancam gelombang tutup toko. Hal itu disampaikan oleh Ketum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) Budihardjo Iduansjah.

Ancaman ini bahkan sudah dialami oleh sejumlah toko yang telah menutup tokonya. Mereka terpaksa mengambil keputusan itu lantaran untuk menekan biaya operasional agar tidak semakin merugi.

"Gelombang tutup toko ya. Itu sudah terjadi sekarang juga, lihat aja itu Ramayana, Hypermart, tutup toko, jadi itu kan karena memang secara perhitungan mereka mau mengurangi biaya," kata Budiharjo dilansir Detik, Minggu (25/10). "Ditutup lah toko-toko yang kinerjanya kurang baik dan merugi."


Jika kondisi ini terjadi, maka itu artinya gelombang PHK juga akan terjadi. Sehingga penutupan toko ritel akan berimbas pada bertambahnya jumlah pengangguran. Bahkan sejak awal pandemi saja sudah ada puluhan karyawan yang dirumahkan.

"Nah ini yang merugi makin banyak kan, maka makin banyak toko yang tutup, makin banyak yang berpotensi di-PHK," lanjut Budiharjo. "Kalau data pasti ini nggak ada, sejauh ini saja sudah ada puluhan ribu dirumahkan."

Sementara itu, jutaan pegawai yang bekerja di mal terancam kehilangan pendapatan mereka. Tak hanya dirumahkan, ancaman juga bisa sampai dikenakan PHK.

"Jumlah tenaga kerja di kami ada sekitar 3 juta. Yang terdampak itu 50 persen, itu adalah sektor yang ada di pusat belanja atau mal," lanjut Budi. "Nah di mal itu kalau 50 persen itu terdampak, sudah pasti angkanya sebesar itu yang akan berkurang pendapatannya, maupun dirumahkan."

Ia memprediksi jika industri ritel bisa mengalami kerugian hingga ratusan triliun tahun ini akibat pandemi. "Kalau dropnya 50 persen, logikanya karena pembatasan, ya kerugiannya bisa Rp 200-250 triliun lebih kerugiannya," papar Budihardjo.

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts