Kepala Seksi Data dan Informasi Stasiun Klimatologi BMKG Semarang Iis W Harmoko mengimbau agar munculnya awan ini tidak dikaitkan dengan pertanda akan datangnya bencana alam.
- Zodiak Yanuarita
- Kamis, 05 November 2020 - 15:56 WIB
WowKeren - Sebuah fenomena gunung "bertopi" awan kembali terjadi di Gunung Lawu pada pagi ini, Kamis (5/11). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika ikut menanggapi fenomena awan Lenticularis ini.
Kepala Seksi Data dan Informasi Stasiun Klimatologi BMKG Semarang Iis W Harmoko menjelaskan jika awan ini umumnya memang berbentuk seperti piring atau lensa. Awan ini "terperangkap" dalam atmosfer bawah.
"Jika udara naik tersebut mengandung banyak uap air dan bersifat stabil, maka saat mencapai suhu titik embun di puncak gunung," kata Iis dilansir Detik, Kamis (5/11). "Uap air tersebut mulai berkondensasi menjadi awan mengikuti kontur puncak gunung."
Ketika udara tersebut melewati puncak gunung, proses kondensasi akan berhenti berlangsung. inilah yang membuat awan Lenticularis seolah-olah terlihat tidak bergerak. Awan ini terbentuk dari arah datangnya angin yang ada di puncak gunung. Sebaliknya, akan menghilang di sisi turunnya angin.
"Saat udara tersebut melewati puncak gunung dan bergerak turun, proses kondensasi terhenti," ujarnya menjelaskan. "Inilah mengapa awan Lenticularis terlihat diam karena awan mulai terbentuk dari sisi arah datangnya angin (windward side) di puncak gunung kemudian menghilang di sisi turunnya angin (leeward side)."
Ia mengimbau agar munculnya awan ini tidak dikaitkan dengan pertanda akan datangnya bencana alam. Namun ia juga meminta agar pilot mewaspadai awan ini. Sebab awan Lenticularis bisa jadi merupakan tanda adanya gelombang gunung yang bisa berakibat buruk pada dunia penerbangan.
"Kemunculan awan Lenticularis ini merupakan pertanda keberadaan gelombang gunung," ujarnya menambahkan. "Gelombang gunung ini akan dapat menyebabkan terbentuknya turbulensi yang berbahaya bagi penerbangan."
Fenomena serupa sebelumnya pernah terjadi di Gunung Rinjani beberapa waktu lalu. Kemunculan awan melingkar di puncak Gunung Rinjani sempat menghebohkan masyarakat sempat. Tak sedikit masyarakat yang menghubungkannya dengan gempa yang sering terjadi di Nusa Tenggara Barat (NTB). Masyarakat menilai bahwa kemunculan "topi" tersebut adalah pertanda gempa.
(wk/zodi)