Kekurangan SDM, Kota di Texas AS Kerahkan Tahanan Angkut Jenazah COVID-19
Reuters
Dunia
Pandemi Virus Corona

Pemerintah Kota El Paso, Texas barat, mengerahkan tahanan kasus pelanggaran ringan untuk memindahkan jenazah pasien COVID-19 ke truk pendingin dengan upah Rp 28 ribu per jam.

WowKeren - Amerika Serikat merupakan negara nomor satu di dunia yang paling terdampak wabah COVID-19. Bukan cuma jumlah kasus positifnya yang terus melonjak, angka kematiannya pun begitu tinggi.

Situasi itu yang akhirnya memaksa tahanan di El Paso, salah satu kota di Texas barat, diterjunkan untuk membantu memindahkan jenazah korban COVID-19 ke tempat yang lebih memadai. Mirisnya, tempat yang dimaksud pun adalah truk pendingin karena kamar jenazah sudah penuh.

Dilansir dari BBC, petugas medis setidaknya sudah meminta hingga 10 truk pendingin demi menyimpan jenazah COVID-19. Dan dalam sepekan terakhir truk-truk ini sudah menyimpan hingga lebih dari 150 jenazah.

Krisis kesehatan yang begitu parah diklaim membuat tenaga medis setempat mengalami kelelahan, baik secara fisik dan mental. Kurangnya jumlah sumber daya manusia yang memadai membuat para tahanan ikut diterjunkan memindahkan jenazah ke truk pendingin dengan bayaran USD 2 atau setara Rp 28 ribu per jam!

Juru bicara kantor pejabat Kota El Paso menegaskan bahwa tahanan yang dikaryakan hanya mereka yang melakukan pelanggaran ringan. Kerja itu disebutkan sebagai aksi sukarela dan mereka pun dilengkapi dengan alat pelindung yang memadai.


Upaya melibatkan tahanan ini jelas dikritik banyak pihak karena penanganan pandemi mengharuskan tenaga medis yang profesional yang turun tangan. Namun Hakim El Paso, Ricardo Samaniego, memastikan pengerahan tahanan adalah pilihan terakhir.

"Bila tidak ada personel atau siapapun yang bisa membantu, kami mencari sukarelawan, termasuk tahanan," kata Samaniego, dilansir dari KFOX14 News, Kamis (19/11). "Itulah pilihan terakhir."

El Paso merupakan kota yang terletak di dekat perbatasan AS dan Meksiko. Alotnya transisi kepemimpinan dari Presiden Donald Trump ke Presiden terpilih Joe Biden membuat sejumlah pejabat El Paso meradang karena khawatir penanganan COVID-19 yang luar biasa parah di tempat mereka akan terhambat.

El Paso dikenal dengan medan yang kaya gurun pasir, kering, serta matahari begitu terik. Situasi itu ditambah dengan penerapan protokol kesehatan yang tidak disiplin hingga memicu lonjakan besar kasus positif dan menyebabkan petugas medis kewalahan.

Tak hanya menggunakan truk pendingin demi menyimpan jenazah serta pengerahan tahanan, El Paso juga dilaporkan baru saja mengubah gedung pusat pertemuan menjadi rumah sakit darurat. Bahkan sejumlah rumah sakit dikabarkan sangat penuh, memaksa para pasien untuk diangkut ke kota-kota lain di negara bagian tersebut.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts