Satgas COVID-19 Ungkap Belum Ada Klaster Pilkada 2020
Nasional
Pilkada 2020

Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19, Sonny Harry B. Harmadi, menyatakan sejauh ini masih belum ada laporkan klaster corona selama pelaksanaan tahapan Pilkada 2020.

WowKeren - Pemungutan suara Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Serentak 2020 akan digelar pada 9 Desember 2020 mendatang. Pelaksanaan Pilkada 2020 sendiri sempat menuai pro-kontra karena digelar di masa pandemi virus corona (COVID-19).

Meski demikian, sejauh ini masih belum ada laporkan klaster corona selama pelaksanaan tahapan Pilkada 2020. Hal ini disampaikan oleh Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19, Sonny Harry B. Harmadi.

"Alhamdulillah memang tidak ada, belum ada terdengar juga munculnya klaster pada tahapan Pilkada," jelas Sonny dalam diskusi pada Sabtu (21/11). "Kita bergembira karena kita juga secara terus menerus kepada seluruh paslon mengingatkan tentang risiko-risiko tadi."


Namun demikian, Sonny tak membantah adanya potensi kemunculan kasus positif corona di sejumlah daerah saat masa kampanye pilkada. Hanya saja, ia tak mengetahui apakah para pasien positif COVID-19 tersebut tertular kala kegiatan kampanye atau bukan.

"Kami belum mendapat detailnya apakah dia itu tertular pada saat kampanye atau sedang kegiatan terkait dengan pilkada atau tertularnya di luar. Karena sebetulnya itu ada datanya ditracing. Dia bisa tahu apakah tertular pada saat tahapan Pilkada atau tertular dalam kegiatan yang lain," ungkap Sonny. "Sejauh ini kami belum memperoleh informasi bahwa ada satu klaster atau super klaster positif di mana dia tertular pada saat melaksanakan kegiatan Pilkada, itu belum ada."

Meski belum ada laporan mengenai klaster corona, Satgas COVID-19 terus mengingatkan agar setiap tahapan Pilkada dilakukan dengan protokol kesehatan yang baik, termasuk pada pemungutan suara nantinya. Sonny berharap tak ada kerumunan yang bisa menambah risiko penularan COVID- 19.

"Karena pada saat pemungutan suara, jumlah orang yang hadir mungkin akan jauh lebih banyak. Berkali-kali kami mewanti-wanti agar di dalam pemungutan suara itu betul-betul diperhatikan protokol kesehatannya," pungkasnya. "Kegiatan apa pun kalau dia berkerumun itu berbahaya. Nah, kadang-kadang ada pengerahan massa yang kami khawatirkan pada saat pemungutan suara, dan itu tentu sangat berbahaya."

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts