Ditegur Satgas COVID-19 Soal Lonjakan   Kasus, Dinkes Jawa Tengah Bilang   Begini
AP
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Menurut juru bicara Satgas COVID-19 Wiku Adisasmito, kasus corona aktif di Jateng sempat mencapai 12,19 persen di awal November 2020 lalu, namun pekan ini angka tersebut naik drastis menjadi 20,70 persen.

WowKeren - Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19, Wiku Adisasmito, sempat menegur Pemprov dan warga Jawa Tengah karena adanya lonjakan kasus positif setiap minggunya. Menurut Wiku, kasus COVID-19 aktif di Jateng sempat mencapai 12,19 persen di awal November 2020 lalu, namun pekan ini angka tersebut naik drastis menjadi 20,70 persen.

Kepala Dinas Kesehatan Jateng, Yulianto Prabowo, lantas menanggapi teguran Wiku tersebut. Menurut Yulianto, data kasus aktif corona yang dimiliki oleh Satgas COVID-19 pusat berbeda dengan data yang dimiliki oleh pemerintah daerah. "Soal kasus aktif terjadi perbedaan data, data Jateng lebih rendah dari pusat," terang Yulianto dilansir Kumparan pada Jumat (27/11).

Meski demikian, Yulianto mengaku menerima teguran Wiku tersebut. Ia menyebutkan bahwa yang terpenting saat ini adalah meningkatkan tracing, testing, dan treatment (3T) demi memutus penyebaran COVID-19.

"Saat ini kami fokus untuk melakukan 3T," papar Yulianto. "Supaya penyebaran virus corona lebih cepat terputus."


Selain itu, Yulianto juga meminta masyarakat Jateng untuk semakin disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan. "Saya minta 3 M (memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak) betul-betul diperhatikan, dan dilakukan," ujar Yulianto.

Sebelumnya, Jateng melaporkan 1.133 kasus positif COVID-19 baru dalam sehari pada Kamis (26/11). Adapun Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengaku telah memprediksi adanya lonjakan kasus COVID-19 di provinsinya.

"Akan nambah lagi. Saya sudah sampaikan delay-nya saja 3.000, kalau ditambah lagi pasti akan tinggi," tutur Ganjar. "Sudah saya sampaikan beberapa waktu lalu Jateng dalam beberapa minggu ini masih akan meningkat."

Adapun prediksi Ganjar tersebut didasarkan pada masih adanya data delay yang belum dikeluarkan. Sehingga dalam beberapa hari ke depan data-data yang delay akan keluar dan membuat angka kasus melonjak. Selain itu, peningkatan jumlah tes swab juga dinilai akan mempengaruhi data COVID-19 di Jawa Tengah.

"Teman-teman ada yang menyampaikan, 'ya kalau tes tinggi ini (data) tinggi jadi jelek ya enggak usah tes aja'. Saya bilang jangan, tetap dites. Teman-teman yang lakukan tracing, testing jangan terpengaruh dengan angka itu," pungkas Ganjar. "Tetap lakukan tes apapun kondisinya. Jauh lebih aman. Makin tinggi kondisi seperti itu makin berhati-hati mengambil keputusan. Maka akhir tahun jangan ada mudik bersama."

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts